Gempa, Antara Derita Dan Harapan

Masih belum hilang derita dan duka nestapa tragedi tsunami yang melanda Nangroe Aceh Darussalam dengan menelan korban ratusan ribu jiwa. Tak lama kemudian derita ini pun bertambah dengan disusul banjir bandang di Panti Kabupaten Jember dan juga kota Trenggalek, yang juga menelan ratusan korban jiwa.
Belum usai rasa pilu yang dalam tiba-tiba disusul lagi dengan tragedi gempa tektonik yang menimpa Jogjakarta dan sekitarnya, yang juga menelan korban ribuan jiwa. Kejadian ini tak terbayangkan sebelumnya, disaat pemerintah maupun masyarakat terkosentrasi dengan persiapan/antisipasi meletusnya gunung Merapi, namun Allah Rabbul ‘alamin menghendaki lain. Karena bila Allah telah menghendaki untuk menimpakan bencana kepada suatu daerah, maka tidak ada siapa pun yang sanggup mencegahnya walaupun telah berkumpul dan bersatu seluruh manusia dan kekuatannya untuk mencegahnya. Allah berfirman (artinya):
“Dan apabila Allah menghendaki keburukan (bencana) terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang mampu menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain dia (Allah).” (Ar Ra’d: 11)
Rasulullah bersabda:
وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بَشَيْءٍ لَنْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَنْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ
“Ketahuilah, sesungguhnya kalau seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat, sungguh mereka tidak akan mampu memberikan manfaat sedikit pun kepadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah kebaikan untukmu. Dan kalau seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikan mudharat (kejelakan) kepadamu, sungguh mereka tidak akan mampu memberikan mudharat sedikit pun kapadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah mudharat terhadapmu.” (H.R. At Tirmidzi no. 2516 dan selainnya)
Bila bencana telah datang, masing-masing berusaha mencari keselamatan jiwanya sendiri. Terkadang (bahkan mungkin kebanyakannya) tak peduli/lupa dengan keselamatan anak, istri, ataupun sanak keluarganya. Usaha menyelamatkan diri sendiri saja belum tentu bisa apalagi memikirkan yang lainnya, terlebih lagi memikirkan keselamatan harta benda. Memang tak terbayangkan sebelumnya, anak akan kehilangan pangkuan orang tuanya, orang tua berpisah dengan anak kesayangannya, istri berpisah dengan suaminya, suami berpisah dengan istri kesayangannya. Rumah, kebun, sawah, jabatan, atau harta benda kesayangan lainnya, tak terpikirkan lagi….!!! Tiada yang bisa menyelamatkan dari bencana ini kecuali rahmat dari Allah .

Segala Kejadian Di Muka Bumi Telah Ditetapkan Oleh Allah
Wahai saudaraku, mengapa semua ini mesti terjadi?
Ketahuilah, bahwa bencana banjir bandang, gempa bumi, gunung meletus, hujan badai, angin topan, tsunami, kekeringan (paceklik) dan lainnya, semua itu terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah . Tidak ada segala kejadian/peristiwa yang terjadi di muka bumi ini melainkan Allah telah tulis/tetapkan dalam kitab-Nya (lauhul mahfuzh). Segala macam bencana yang terjadi ini bukanlah dari faktor tabi’at (hukum alami) semata. Allah berfirman (artinya):
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah.” (At Taghabun: 11)
“Tiada suatau bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Supaya kalian jangan berduka cita tehadap apa yang luput dari kalian dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidaklah suka terhadap setiap orang yang sombong lagi menbanggakan diri.” (Al Hadid: 22-23)
Rasulullah bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَاخَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ ، فَقَالَ لَهُ : اكْتُبْ ، قَالَ : رَبِّ وَمَاأَكْتُبُ ؟ قَالَ : اكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلٍّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ
“Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan oleh Allah adalah al qalam (pena). Maka Allah berkata kepadanya: “Tulislah? Al qalam berkata: “Wahai Rabb-ku apa yang aku tulis? Allah berkata: “Tulislah taqdir terhadap segala sesuatu sampai datang hari kiamat.” (H.R. Abu Dawud no. 4700 dan selainnya)

Bencana Juga Telah Melanda Pada Umat-Umat Terdahulu
Al Qur’anul Karim telah mengabadikan kisah-kisah umat terdahulu yang ditimpa bencana sebagai pelajaran yang amat berharga bagi generasi setelahnya.
Diantaranya, Allah menyebutkan kisah kaum ‘Aad yang menentang petunjuk Nabi Hud, dengan firman-Nya (artinya):
“Adapaun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang amat dingin lagi kencang. Yang Allah menimpakan angin itu selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus, maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan bagaikan tunggul-tunggul pohon korma yang telah lapuk.” (Al Haaqqah: 6-7)
Demikian juga kisah kaum Tsamud yang menentang petunjuk Nabi Shalih sehingga mereka ditimpa gempa, Allah berfirman (artinya):
“… dan mereka telah berlaku angkuh terhadap perintah Rabb mereka. Dan mereka berkata: “Wahai Shalih, datangkan apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika kamu (benar-benar) termasuk orang-orang yang diutus oleh (Allah).”
“Oleh sebab itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.”
“Maka Nabi Shalih meninggalkan mereka seraya berkata: “Wahai kaumku sesungguhnya saya telah menyampaikan kepada kalian amanat Rabb-ku, dan aku telah memberi nasehat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.” (Al A’raf: 77-79)
Mereka juga ditimpa dengan petir yang dahsyat, sebagamana dalam ayat lainnya (artinya):
“Dan adapun kaumTsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kesesatan dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir sebagai adzab yang menghinakan disebabkan perbuatan mereka (sendiri).” (Fushshilat: 17)
Demikian juga kisah kaum Madyan yang menentang petunjuk Nabi Syu’aib juga ditimpa bencana gempa, Allah mengisahkan dengan firman-Nya (artinya):
“Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): “Sesungguhnya jika kalian mengikuti Syu’aib tentu kalian menjadi orang-orang yang celaka.”
Karena itulah mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka.”
“(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Nabi Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah tinggal di kota itu, orang-orang yang mendustakan Syu’aib itulah adalah orang-orang yang celaka.”
“Maka Nabi Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata: “Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada kalian amanat-amanat Rabb-ku dan aku telah memberi nasehat kepada kalian. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?.” (Al A’raf: 90-93)
Demikian juga kisah kaum Nabi Luth, Allah berfirman (artinya):
“Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan (balikkan) negeri kaum Nabi Luth itu yang di atas menjadi ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar secara bertubi-tubi.” (Hud: 82)

Terjadi Bencana Karena Sebab Ulah Kita Sendiri
Wahai saudaraku, kenapa mesti terjadi?
Allah Yang Maha Adil dan Maha bijaksana, dengan keadilan dan hikmah-Nya itu Allah menegaskan bahwa bencana/malapetaka itu disebabkan oleh ulah tangan manusia sendiri dan dosa-dosa yang mereka lakukan. Allah berfirman (artinya):
“Dan musibah/bencana apa saja yang menimpa kalian, maka itu disebabkan karena perbuatan tangan (dosa) kalian sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (Asy Syura: 30)
Dan juga firman-Nya (artinya):
“Masing-masing mereka Kami siksa, disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak ingin menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al Ankabut: 40)
Wahai saudaraku!!!
Sudahkah kita memperbanyak ibadah kepada Allah dan tidaklah kita beribadah kecuali hanya kepada Allah ? Bukankah Dia-lah Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta ini?
Sudahkah kita bersyukur kepada Allah ? Bukankah Dia-lah Sang Pemberi rezki dan nikmat yang tidak akan mungkin kita bisa menghitungnya?
Kenapa kita enggan untuk menghidupkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad ? Padahal kita semua tahu bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi kita semua yang di utus oleh Allah . Kita diwajibkan untuk menghargai dan mentati beliau serta menjalankan perintah-perintahnya. Tetapi kenapa kita engan menjalankan perintah-perintah dan sunnah-sunnah beliau ? Padahal Allah telah menyatakan (artinya):
“Berhati-hatilah orang yang menyelisihi perintah dia (Rasul) akan menimpa kepadanya fitnah atau adzab yang pedih”. (An Nuur: 63)
Al Imam Ibnu Jarir berkata: “Yakni mereka akan ditimpa oleh adzab yang menyakitkan di dunia karena ulah mereka menyelisihi sunnah Rasulullah . (Jami’ul Bayan 9/361)
Kenapa kita enggan untuk menghidupkan syi’ar-syi’ar agama Islam, padahal agama Islam adalah agama yang paling sempurna dan diridhoi oleh Allah serta tidak akan diterima disisi Allah dari seluruh agama selain agama Islam?
Wahai sadaraku, maka perhatikanlah dan hayatilah firman Allah (artinya):
“Rabb kalian adalah Yang melayarkan kapal-kapal di lautan untuk kalian, agar kalian dapat mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadap kalian.”
“Dan apabila kalian ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah yang kalian seru (mintai pertolongan) kecuali Dia (Allah semata). Maka tatkala Dia menyelamatkan kalian ke daratan, lalu kalian berpaling. Dan memang manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.”
“Maka apakah kalian merasa aman (dari hukuman Rabb kalian) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kalian atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil ? Dan kalian tidak akan mendapat seorang pelindung pun bagi kalian?”
“Atau apakah kalian merasa aman dari dikembalikannya kalian ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kalian angin taupan dan ditenggelamkannya kalian, disebabkan kekafiran kalian. Dan kalian tidak akan mendapat seorang penolong pun dalam hal ini terhadap siksaan (Kami).” (Al Isra’: 66-69)

Taubat Dan Kembali Menjalankan Agama Allah Merupakan Jalan Keselamatan Dari Adzab Allah Dan Jalan Meraih Rahmat-Nya
Barangsiapa yang menabur benih kejelekan niscaya ia pun akan menuai kejelekan yang setimpal. Sebaliknya barangsiapa yang menabur kebajikan, niscaya ia pun akan memetik kebajikan, dan bahkan Allah akan melipat gandakan kebajikan itu. Oleh karena itu pada saat kondisi sekarang ini dan seterusnya, marilah kita berupaya melakukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan rahmat Allah dan menjauhkan dari kemurkaan-Nya. Diantaranya:
1. Bertaubat dari segala dosa yang pernah kita lakukan. Pintu taubat masih terbuka lebar-lebar, karena memang rahmat Allah itu amatlah luas. Allah berfirman (artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, pasti Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam al jannah yag mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (At Tahrim: 8)
2. Segera memperbaiki dan menambah iman dengan taqwa dan amalan-amalan shalih. Allah berfirman (artinya):
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka (sendiri).”
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?”
“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka di waktu dhuha ketika mereka sedang

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>