APA SETELAH IBADAH HAJI?

Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Mabi kita Muhammad, keluarganya serta para shahabatnya…

Barusan saja pembawa acara menghimbau kepada saudara sekalian untuk berkumpul dan bermajlis bersama para tholabah untuk saling mengingatkan satu sama lain, semoga Allah memberikan manfaat pada beberapa kalimat yang akan disampaikan.

Pertama kami ucapkan semoga Allah menerima amal shalih kita semua dan memberikan barakah padanya, serta kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla terkabulnya amalan kita, sesungguhnya Dia Dzat yang Maha Pemurah dan Maha Mulia.

Tidak diragukan lagi bahwa mengucapkan kata selamat hari ‘Id merupakan salah satu sunnah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,dan telah berjalan di atasnya para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Hanya saja, ucapan selamat tersebut akan menjadi sempurna jika seorang hamba menyempurnakan amalan shalih yang telah diamalkannya, kemudian mengiringinya dengan amalan shalih yang dia kerjakan pada hari-hari penuh barakah tersebut.

Aku katakan, dia mengiringinya dengan amal-amal shalih lainnya. Karena sesungguhnya di antara nikmat Allah kepada seorang hamba, Allah memberikan kepadanya taufiq untuk amal shalihnya berkesinambungan dan senantiasa mengiringi amalan-amalan shalih, serta terus menerus kembali bertaubat kepada Allah. Karena sesungguhnya seluruh pemberian ini dan musim-musim ini adalah musim-musim kebaikan dan musim menanam. Barang siapa yang padanya menanam kebaikan maka dia akan memperoleh kebaikan pula, dan barang siapa yang tidak (menanam kebaikan) maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri karena dia adalah orang yang menggampangkan.

Allah telah memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk bertaubat kepada-Nya, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nashuha”

Makna taubat nashuha adalah: berlepas diri dari dosa dengan penuh rasa penyesalan serta tekad untuk tidak mengulanginya kembali. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu sebagaimana dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah : “Taubat nashuh adalah bertekat untuk tidak kembali.” yakni: kepada dosa.

Tidak diragukan lagi wahai segenap saudara bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits dalam permasalahan taubat kepada Allah sangatlah banyak, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, serta yang lainnya, bahwa beliau beristigfar dalam satu majelis lebih dari seratus kali, dalam riwayat lain disebutkan lebih dari tujuh puluh kali. Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang.

Disebutkan pula dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa ketika beliau shalat malam hingga kaki beliau bengkak, maka Ummul mukminin ash-Shiddiqoh putri ash-Shiddiq mengatakan kepada beliau, “Masihkah engkau lakukan hal ini padahal dosa anda telah diampuni yang lalu maupun yang akan datang??!” Maka jawaban beliau adalah: “Tidakkah boleh aku menjadi hamba yang selalu bersyukur?”.

Maka wajib atas seorang hamba untuk membalas apa yang telah Allah berikan kepadanya dengan bersyukur kepada-Nya, terus menyebut-nyebutnya, dan mengakui keutamaan-Nya, serta mengarahkan anggota tubuhnya, hatinya, dan lisannya untuk bersyukur kepada-Nya, berdzikir kepada-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih riwayat al-Imam at-Tirmidzi dan yang lainnya:

((إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ))

“Sesunguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum sampai ke tenggorokan.”

maknanya: selama kematian belum datang menjemputnya.

Juga di antara penghalang diterimanya taubat, atau tidak akan diterima taubat seorang hamba jika matahari telah terbit dari barat.

Maka hendaknya seorang hamba bersegera pada musim-musim ini, di mana Allah telah menganugrahkannya kepadanya, hendaknya dia benar-benar memanfaatkannya dan senantiasa memperbarui taubatnya kepada Allah, serta memperbanyak istighfar (mohon ampunan) dan memperbanyak pula amalan-amalan ketaatan, karena sungguh merupakan tanda diterimanya taubat dan amalan shalih seorang hamba adalah dengan ditunjukkannya hamba tersebut kepada amalan shalih berikutnya dan dia mengiringi amalannya dengan amalan sholih yang berikutnya, maka ini merupakan taufiq dari Allah ‘Azza wa Jalla untuknya dan anugrah Allah untuknya.

Diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya “al-Mushannaf” dengan sanad yang hasan dari Hisyam bin ‘Urwah bahwa ayah beliau “Urwah bin az-Zubair berkata kepadanya:

“Wahai putraku apabila engkau melihat seorang melakukan amal ketaatan, maka ketahuilah bahwa amalan tersebut di sisinya ada saudara-saudaranya. Dan apabila engkau melihat seorang melakukan kemaksiatan maka ketahuilah bahwa kemaksiatan tersebut di sisinya juga ada saudar-saudaranya. Amal ketaatan akan menunjukkan kepada saudaranya dan kemaksiatan juga akan menunjukkan kepada saudaranya.”

Maka hendaknya seorang hamba bersemangat dan mempergunakan kesempatan yang telah dianugrahkan kepadanya ini, sungguh engkau dalam masa hidupmu ini -segala puji bagi Allah- Allah masih memberimu umur hingga jam ini, maka jadilah seorang hamba yang dekat dengan Allah dan jauh dari kemaksiatan kepada-Nya. Tatkala seorang hamba semakin dekat dengan Allah maka maka semakin jauh pula dia dari kemurkaan Allah. Akan tetapi kerugian dan penyesalan adalah bagi seorang yang terluput darinya kesempatan ini.

‘Abdullah bin al-Mu’taz sebagaimana dalam kitab “al Jami” al Khothib” berkata, “Sebuah kesempatan itu sangat cepat hilangnya dan sangat lambat kembalinya.”

Di sana ada beberapa orang dahulu bersama kita pada beberapa waktu yang lalu, kemudian mereka telah mendapati dan melakukan ibadah Haji pada tahun lalu dan berhari raya bersama manusia pada tahun lalu, namun sebagian mereka tidak lagi bertemu dan melakukan ibadah haji di tahun ini tidak pula hari raya di tahun ini, demikianlah hari ini terus berputar.

Setiap anak Adam walaupun panjang keselamatannya

Tetap pada suatu hari nanti dengan keranda mayat dia akan dipikul

Maka seseorang tidak akan mendapati kecuali apa yang dahulu ia amalkan. Hendaknya seorang hamba bersegera dan memperbarui tekadnya, serta senantiasa meneliti dan mengoreksi dirinya, karena “hari ini adalah hari untuk beramal dan tidak ada hisab padanya, sedangkan esok adalah hari hisab dan tidak ada amal padanya.”

Jadilah engkau wahai hamba Allah seorang yang memiliki semangat yang tinggi dalam mengoreksi dan melihat dirimu, kembali kepada Allah dari apa yang kamu kurang atau berlebihan, dan ingatlah bahwa apabila seorang hamba melakukan sebuah kemaksiatan dan dosa karena dia lalai atau lupa kemudian dia segera memperbarui taubatnya kepada Allah maka ini merupakan kebaikan yang Allah inginkan untuknya, Allah membantunya dan mengingatkannya serta memberi kepadanya ilham dengan membimbingnya untuk segera taubat dan kembali kepada Allah.

Allah berfirman mengingatkan hambanya:

نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ ﴾ ص:30 )

 “Sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah hamba yang selalu kembali kepada Allah” yakni senantiasa kembali

Pintu taubat masih terbuka, dan engkau wahai orang mukmin masih bisa untuk memperbaiki amalan, baik yang lalu ataupun yang akan datang. Akan tetapi yang terpenting adalah engkau memperbaiki amalan yang sedang engkau kerjakan, pada waktu yang engkau ada padanya.

Al-Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab “al-Fawaid” tatkala beliau berbicara tentang seseorang memperbaiki kondisinya, “Seseorang memperbaiki keadaan yang telah lalu, memungkinkan bagi dia memperbaiki apa yang telah berlalu. Memungkinkan juga bagi dia memperbaiki apa yang akan datang, dan memperbaiki keadaan yang dia sedang ada padanya, tanpa rasa berat dan rasa capek.

Adapun memperbaiki keadaan yang telah lalu adalah dengan penyesalan dan bertaubat serta kembali kepada Allah dari apa yang telah diperbuatnya dan yang telah dilanggarnya pada hari-hari yang yang lalu, memohon ampun kepada Allah dari yang telah berlalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya serta menyesal dari amalan yang telah diperbuatnya.”

Riwayat dari al-Imam Ahmad dan lainnya dengan sanad yang hasan yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Penyesalan adalah taubat.”

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Maka ini adalah bentuk perbaikan dari keadaan yang telah lalu.” Yakni engkau memperbaiki keadaan yang telah lalu dengan bertaubat kepada Allah dan bertekad serta menyesal atas apa yang telah engkau langgar dan lakukan. Engkau beristighfar (meminta ampun) kepada Allah ‘Azza wa Jalla  atas apa yang telah engkau perbuat, maka inilah bentuk perbaikan keadaan yang telah lalu.

فَأُولَـٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّـهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ

“Maka mereka akan Allah ganti kesalahan mereka dengan kebaikan”

Perbaikan ini padanya tidak perlu ada kesungguhan, yakni engkau bekerja dengan kedua tanganmu dan padanya ada kecapekan pada fisik. Namun, cukup engkau mulai sementara engkau tetap pada tempat dan posisimu, maka Allah akan melihat dari dirimu kebaikan, kejujuran, taubat, dan kembali kepada Allah. Inilah, bentuk perbaikan keadaan yang lalu.

Kemudian Ibnul Qayyim melanjutkan:

Adapun memperbaiki keadaan yang akan datang adalah dengan mengkokohkan tekad agar seorang hamba tidak melakukan yang dimurkai Allah.”

Dia bertekad jika Allah masih memberinya umur maka dia tidak akan bermaksiat kepada Allah dan dia bersungguh-sungguh untuk tidak bermaksiat kepada Allah. Ini juga tidak butuh amal dan kecapekan. Karena dia bisa memperbarui janji dia kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bersikap jujur kepada-Nya, dan memohon kepada-Nya pertolongan dan bantuan. Apabila dia telah menerapkannya maka dia telah memperbaiki hari-harinya yang akan datang.

Kemudian Ibnul Qayyim melanjutkan :

Adapun memperbaiki hari yang engkau ada padanya sekarang, atau waktu yang engkau ada padanya sekarang. Maka ini lebih berat dari kedua jenis perbaikan sebelumnya.”

Karena perbaikan yang pertama dan kedua sebagaimana yang aku katakan tadi, tidak perlu ada kecapekan pada badan. Adapun perbaikan waktu yang engkau ada padanya atau hari yang engkau ada padanya, maka inilah permasalahan yang sesungguhnya. Kerena perbaikan ini butuh ada darimu kesungguhan dan keseriusan. Engkau harus menahan dirimu dan mengajaknya untuk sabar agar tidak melakukan sesuatu yang tidak diridhai-Nya. Engkau berupaya serius melakukan perkara yang diperintahkan.

Jadi engkau butuh terhadap apa?

Engkau butuh kepada kesungguhan yang besar dan menahan diri serta mengekang hawa nafsu. Karena hawa nafsu itu liar, jika engkau tidak mengekangnya dengan tali kekang taqwa maka dia akan lepas kembali, oleh karena itu Alllah berfirman:

﴿وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ﴾

“Dan pakaian taqwa itu adalah lebi baik” (

Dan Allah berfirman:

﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ﴾[البقرة:197]

“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”

Jadi, mungkin bagi seorang hamba untuk memperbaiki dirinya terkait dengan yang telah lalu, yang akan datang, dan di hari yang dia ada padanya.

Maka bersungguh-sungguhlah wahai saudara yang saya cintai untuk mempergunakan kesempatan ini, yang telah Allah anugrahkan kepadamu, dengan memperbarui janji kepada Allah Ta’ala, dan kembali serta taubat kepada-Nya.

Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al Wabil ash-Shayyib “ berkata, “Terkadang amalan ketaatan bisa memasukkan pelakunya ke dalam an-Naar (neraka) dan terkadang kemaksiatan bisa memasukkan pelakunya ke dalam al-Jannah (surga).”

Kemudian beliau berkata: “Maknanya adalah: bisa jadi sebagian orang melakukan ketaatan kepada Allah, kemudian dia mengungkit-ungkitnya kepada Allah dan merasa bahwa dia sudah melakukan apa yang wajib atasnya. Dia terus berada pada keadaan ini dan musibah ini, sampai dia tidak lagi melaksanakan apa yang Allah wajibkan atasnya. Sehingga tiba-tiba an Naar datang menghampirinya – kita berlindung kepada Allah darinya – . Sifat  riya’ dan pamer ini akan menghapuskan amalan:

﴿ يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُل لَّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُم بَلِ اللَّـهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ ﴾ [الحجرات: ١٧]

“Mereka mengungkit-ungkit kepadamu keislaman mereka. Katakanlah: janganlah kalian mengungkit-ungkit kepadaku keislaman kalian, bahkan Allah lah yang telah menganugrahkan kepada kalian untuk mendapatkan hidayah iman”(al-Hujurat : 17)

Kemudian beliau berkata: “… dan terkadang kemaksiatan memasukkan pelakunya ke dalam al-Jannah”, maknanya: bahwa seorang hamba terkadang melakukan sebuah dosa, namun dia senantiasa ingat bahwa itu dosa. Kemudian dia segera bertaubat dan memperbaruinya, serta menambah dengan berbagai amalan shalih dengan harapan semoga Allah menghapus dosa yang telah diperbuatnya. Maka dia senantiasa berada dalam ketaatan menuju ketaatan berikutnya dari sikap kembali kepada Allah kepada yang berikutnya. Dengan sebab dosa ini akan terbuka pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak dari berbagi amalan shaleh, sehingga akan menjadi sebab masuknya dia ke dalam al-Jannah.

Oleh karena itu, wahai yang saya cintai, ketahuilah dengan yakin bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih, Dzat yang Maha Memberi Ampun, Dzat yang Maha Menyayangi, akan tetapi Dia juga Maha dahsyat hukumannya dan mencintai dari hamba-Nya taubat.

إنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مُغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar bertaubat orang yang melakukan dosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar bertaubat orang yang berbuat dosa di malam hari. (Demikian seterusnya), sampai Matahari terbit dari arah barat.” sebagaimana sabda Rosululloh dalam kitab ash-Shahih dalam riwayat al-Bukhari dan yang lainnya.

Kami memohon kepada Allah agr menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa kembali dan bertaubat. Semoga Allah memberikan kita semua amalan yang baik dan niat yang jujur, sesungguhnya Dia adalah Dzat yang Maha Pemurah dan Maha Mulia.

Semoga shalawat, salam, dan barakah Allah tercurah kepada Rasulullah keluarganya dan para shahabatnya.

Sumber:

Ceramah berjudul “Apa setelah Haji?”

Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah

 http://ar.miraath.net/audio/4839

Sumber http://www.manhajul-anbiya.net/apa-setelah-haji-4278/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.