Bukan Kekurangan Makanan yang Kami Khawatirkan! (Kisah PKL Bandealit)

Beberapa hari sebelum pelaksanaan PKL-SPN 2019 Ma’had Minhajul Atsar Jember, dibentuklah kepanitiaan untuk persiapan hal-hal yang dianggap perlu dengan harapan adanya kepanitiaan tersebut program PKL SPN tahun ini lebih baik. Ada ketua, sekertaris, bendahara, dan bagian-bagian lain. Yang tak kalah penting adalah tim penggalangan dana dengan cara mandiri.

Oiya, PKL-SPN tahun 2019 ini akan menempati 3 daerah terpencil:
1. Bandealit, Jember, Jawa Timur.
2. Sukamade, Banyuwangi, Jawa Timur.
3. Betumping, Kab. Lombok Utara, NTB.

Mari kita simak kisah penuh hikmah dan pelajaran, terkhusus bagi kami, anak-anak muda yang minim pengalaman, dalam menimba ilmu dan mempraktikkannya.

Berbagai macam kegiatan dilakukan oleh panitia PKL SPN, mulai dari pencucian baju bekas layak pakai, pencarian dana dengan berjualan, menghasung keluarga, teman dekat dan berbagai kolega lainnya. Berbagai kegiatan itu dijalani dengan penuh antusias. PKL SPN menjadi bahan perbincangan di hampir setiap majelis santri.

Pencarian dana terus dilakukan, hingga walhamdulillah dana terkumpul sekitar 7 juta. Dua hari sebelum keberangkatan, dana tersebut dibagi ke masing-masing bendahara tim. Mulailah kami menghitung-hitung dan menkalkulasi perkiraan-perkiraan kebutuhan dana nantinya saat PKL berlangsung. Dengan hitungan akal manusia yang rendah, dana yang telah dibagi tersebut jauh dari hitungan cukup.
Mulailah kecemasan dan was-was muncul. Rasa ingin mengaduh kepada Ustadz pembimbing tidak lagi tertahankan.

Setelah menyampaikan keluh-kesah, di malam terakhir sebelum keberangkatan kami berkumpul di kamar 3 untuk mendengarkan pengarahan dari salah seorang ustadz sebagai persiapan keberangkatan besok.
Sang ustadz (semoga Allah menjaga beliau) menyampaikan banyak hal sebagai bekal dan pegangan kita selama berada di lokasi PKL. Diantara penyampaian beliau yang sangat menyentuh adalah ucapan beliau, “Kami tidak pernah menghawatirkan bekal-bekal kalian, logistik kalian, uang kas kalian. Bekal materi hanyalah sebagai wasilah. Jika kita bertakwa, segala kekurangan akan ditutupi oleh Allah. Bekal takwa ini yang paling penting dst…”.

Uhh, rasanya hati ini ingin menangis. Betapa dangkalnya sudut pandang kami. Hitungan kami yang salah, dan lupa kalau hitungan Allah berbeda dengan hitungan manusia. Seorang yang bertakwa, bisajadi 1+1 Allah jadikan bagi dia =10, lah siapa yang bisa menghalangi jika Allah yang berkehendak.

Benar apa yang disampaikan sang ustadz. Di lokasi PKL kita tidak pernah kekurangan makanan. Bahkan makanan melimpah, jauh dari sangkaan kita. Jauh dari perkiraan kita. Kita ingat firman Allah,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan memberinya jalan keluar dan memberi kepadanya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” (QS. at-Tahrim: 2 & 3)

Dan ternyata Ustadz tersebut tidak tinggal diam, atau hanya sekedar memotivasi saja. Beliau memberikan bimbingan, kisah di saat beliau masih mengurus kegiatan taklim saat masih menjadi mahasiswa, membuat buletin, dst. Untuk PKL-SPN ini, Ustadz tersebut diam-diam juga sudah menyiapkan bantuan anggaran untuk bekal kami. Dan tambahan itu disampaikan detik-detik saat menjelang keberangkatan. Memang, sejak awal, semua itu adalah pendidikan dan pelajaran bagi kami.

Hari pertama dapat ikan pari besar terdampar. Teman kami mengolahnya menjadi masakan, masakan yang banyak yang tidak habis dimakan oleh teman-teman selama 3 kali jam makan. Masakannya tak lupa dibagi ke tetangga. Betul-betul nikmat yang tak terduga sebelumnya.

Hari berikutnya, ketika kami sudah mulai kenal dengan warga sekitar, ngobrol banyak dengan masyarakat nelayan, beberapa kali kami mendapat kiriman lobster yang tak tahu berapa banyak uang rupiah yang harus dikeluarkan kalau kami diminta untuk membayarnya.
Ada juga kiriman ikan besar yang entahlah berapa mahal harganya, kiriman kerang, kiriman masakan siap santap, sampai undangan makan ke rumah warga. Saat kepulangan kita pun masih ada bingkisan ikan segar besar yang kita masak setiba di ma’had. Betapa besar nikmat Allah yang kami dapatkan. Jauh dari kecemasan kami, jauh dari hitung-hitungan kami. Sungguh benar firman Allah:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syaithan menakut-nakuti kalian kefakiran dan memerintahkan kalian untuk berbuat jelek dan Allah menjanjikan kepada kalian ampunan dan keutamaan, sesungguhnya Allah maha luas karunia-Nya lagi maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268)

Sampai menjelang hari kepulangan, uang kas masih tersisa banyak. Kami berfikir dan mencari ide untuk mengalokasikannya kemana dan membuat kegiatan apa. Yah, ini sebagai bahan instrosfeksi bagi kami, betapa kami butuh untuk banyak belajar dan terus belajar. Ternyata kami masih belum lepas dari sifat rakus, ambisius, ujub dan sifat-sifat jelek lainnya. Kami banyak bersyukur kepada ma’had melalui kegiatan PKL-SPN ini, sembari memohon maaf atas ketergesa-gesaan kami menyikapi kebijakan dari pengurus.

 

 

 

8 berbuah 20

Di suatu pagi, kami duduk-duduk di teras posko. Tiba-tiba salah seorang teman melihat seorang bapak sedang memanen kelapa. Bapak ini telah kenal dengan sebagian dari kami karena sebelumnya beberapa perwakilan tim PKL telah berkunjung ke rumah beliau.
Ketika kami menyampari bapak tersebut, sebenarnya panennya sudah hampir selesai. Kami kemudian membantu mengangkat hasil panen tersebut yang hampir selesai dari samping pohon kelapa ke dekat kendaraan bapak tersebut. Kami membantu mengangkat sekitar 8 buah kelapa.

Bapak tersebut lalu kembali mengambil kelapa, kami pikir beliau mau melanjutkan panennya karena kami datang membantu. Ternyata si bapak memetik kelapa muda buat kami, sekitar 20 buah. Kami berujar “lah pak gak usah repot-repot”. Bapaknya berkata “ini buat sarapan kalian, terima kasih atas bantuannya. Kalau sempat main-main ke rumah”.
Wah, kami tidak menduga. Si bapak tidak melihat nilai dari bantuan yang kami berikan. Sangat sedikit nilai dari apa yang kami berikan jika dibandingkan apa yang diberikan si bapak untuk kami.
Dilain hari, diwaktu pagi sepulang dari jalan-jalan kami menemukan seorang ibu dan bapak sedang ngarit (mengambil makanan untuk sapi). Kami iseng untuk menyampari dan memberikan sedikit bantuan. Bapak dan ibu sangat senang dengan kami menyampari mereka berdua.

Tak lama, mereka berdua selesai dan berpesan untuk kami setelah ini ke rumahnya karena ibunya buatkan sambal untuk kami. Yah, kami menerima ajakan tersebut takut ibunya kecewa. Setelah kami ke rumahnya, ternyata bukan sekedar dibuatkan sambal. Lebih dari itu kami dibuatkan telur dadar goreng dan sambal yang banyak untuk dibawah pulang ke posko.
Kami mengatakan ke si ibu “bu kok repot-repot, kami mengira cuma dibuatkan sambal malah dibuatkan telur goreng yang banyak.” Ibunya menjawab “nak ibu gak repot, ibu senang, ikhlas. Kalau ibu punya, ibu kasih. Ibu cuma ingin kamu nanti pulang jangan lupa sama ibu dan bapak. Sambung doa buat ibu dan bapak biar sehat selalu dan panjang umur. Kalau nanti sempat setelah selesai PKL kalian jalan-jalan kesini datang ke rumah ibu”.
Masya Allah. Benar, mereka tidak melihat nilai dari pemberian kita. Dua kisah diatas mengingatkan sabda Rasullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari sahabat Abu Dzar:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا, وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janngan sekali-kali engkau meremehkan perbuatan baik sedikitpun walaupun sekedar engkau berjumpa dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim)

Mungkin bagi kami itu adalah hal yang sepele, tapi mereka menganggapnya itu adalah hal yang luar biasa. Dari setiap kejadian kami belajar, siapa yang menanam kebaikan ia akan menuai kebaikan pula, cepat atau lambat. Allah berfirman:

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan dari sebuah kebaikan kecuali kebaikan pula.” (QS. Ar-rahman : 60)

Semoga Allah memberikan kepada kami dan pembaca taufik untuk selalu berbuat baik. Dimanapun dan kapanpun.

Akibat ulah manusia (curahan hati petugas taman nasional)

Di Taman Nasional Merubetiri resort Bandealit beberapa waktu terakhir sampai hari ini terjadi penebangan pohon secara liar. Pohon milik taman nasional yang diharapkan menjadi sumber oksigen dan sebab bertahannya ekosistem satwa langka.
Si bapak petugas bercerita “kami tidak mengerti apa mau mereka. Tidak usah menunggu angin puting beliung. Ketika pohon-pohon jati itu ditebang habis, sekuat apa dinding rumah mereka menahan angin dari laut? Kenapa mereka tidak berfikir. Berpikir untuk mereka dan keturunan mereka”.
Kekeringan, angin puting beliung, dan bencana lain datang silih berganti. Itu semua tidak lepas dari akibat perbuatan dan ulah manusia yang sering berbuat kerusakan di muka bumi. Allah Ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di muka bumi dan di lautan dengan sebab perbuatan tangan manusia untuk merasakan kepada mereka sebagian dari apa yang telah mereka amalkan semoga mereka kembali.” (QS. ar-Rum: 41)

Demikianlah apa yang Allah Ta’ala kabarkan dalam al-Quran. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kejadia-kejadian yang telah terjadi.

 

 

Ustadzz…jangan pulang!

Tiga pekan kami menjalani hari-hari PKL di Bandealit. Tiba waktunya kami kembali ke ma’had melanjutkan perjuangan. Berpisah dengan lingkungan yang belum lama kami kenal, belum lama kami bersua dan bergaul dengan penghuninya. Hari perpisahan, hari yang berat untuk dijalani sebagai konsekuensi dari adanya pertemuan dan perkenalan.
“Ustadz jangan pulang dulu” ujar anak-anak merengek sambil meneteskan air mata. Suasana haru setelah shalat Jumat. Saat mereka berkumpul di depan posko menunggu kepergian kita dalam keadaan barang-barang semua sudah dinaikkan ke mobil L300 milik ma’had. Kemarin mereka berkata kepada kami “besok ustadz tidak boleh pulang. Kami mau kempesin ban mobil ustadz biar tidak bisa pulang”. Ada juga yang berkata “semoga besok hujan lebat sepanjang hari biar ustadz gak bisa pulang”.

Hal kecil yang telah kami perbuat selama tiga pekan begitu bermakna bagi mereka. Rasa kehilangan yang mendalam yang mereka rasakan tidaklah muncul kecuali karena mereka benar-benar merasakan dan senang akan keberadaan kita selama ini. Tak sedikit yang berkata “aku nanti selesai ujian nasional mau mondok ke tempat ustadz”. Ada juga yang lebih mengharukan “ustadz, aku sekarang kelas 4. Dua setengah tahun lagi aku mau mondok ke tempat ustadz. Ustadz belum lulus kan pas aku kesana?”.
Sebenarnya diawal perencanaan PKL SPN, sebagian kami masih bertanya-tanya dalam hati apa tujuan dan manfaat dari PKL SPN ini.

Sampai waktu sampai di lokisi diantara kami ada yang berujar dalam hati, “Kenapa kami harus dikirim ke tempat asing nan terpencil ini?” Pun sudah berjalan PKL beberapa pekan ada salah seorang dari kami berkata ke salah satu kawan saat berjalan melakukan kunjungan, “Apa ya tujuan ma’had melakukan bakti sosial, mengirim sumbangan, PKL ke kampung ini? Kampung yang masyarakatnya nampaknya sangat kecil kemungkinan untuk bisa menjadi ‘salafy’.”

Setelah selesai PKL kami tersadar, benar kata salah seorang ustadz kepada kami waktu kami mengeluhkan beberapa hal terkait persiapan PKL. Beliau berkata, “Kami sebagai pengurus lebih perhatian terhadap kalian melebihi perhatian kalian terhadap diri-diri kalian sendiri. Mungkin kalian mencemaskan keadaan kalian disana. Tapi kami sudah memperhitungkan semua, terkait kalian sebelum PKL, saat PKL dan setelah PKL, semuanya kami pikirkan untuk kalian.” Sungguh benar perkataan beliau. Pelajaran kehidupan, kebersamaan, dst.

Kami ingat firman Allah Ta’ala:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Dan boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216)

Sifat kami yang tergesa-gesa, gegabah dan seringnya mendahulukan prasangka buruk terbantahkan dengan banyak hal yang kami dapatkan dari PKL SPN ini. Ini sebagai pelajaran besar bagi kami untuk selalu berprasangka baik kepada pihak pengurus dan seluruh kebijakan-kebijakan ma’had karena segalanya tidak lain kecuali berupa manfaat yang kembalinya kepada kami.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.