“Insya Allah Saya Akan Berhenti Merokok, Ustadz…”

Gambar. Rumah salah satu warga Muara Dua dan genangan air rawa yang menjadi tamannya

Siang itu kami berkunjung ke rumah seorang warga dusun Muara Dua. Pak Sino dan bu Supriati, begitu biasa mereka disapa. Sepasang suami istri yang cukup terkenal di desa itu kesehariannya bekerja sebagai penderes yang cukup berpengalaman dan pekerja keras. Pak Sino menuturkan bahwa tidak jarang dia baru turun dari nderes ketika malam mulai menyapa.

Kenyataan itupun kami dapati selama kegitan PKL ini. Sering ketika kami berangkat ke masjid untuk shalat maghrib, Pak Sino baru datang dengan perahu kayunya. Kebetulan perahu itu biasa diparkir di depan posko kami. Perahu yang sudah terlihat bocor di sana sini itu menjadi kendaraan penting di desa yang sebagian besar wilayahnya tertutup air ini.

“Sudah selesai nderes, pak?” Sapa kami.

Dengan senyum polos dia menjawab, “Kurang 10 pohon lagi ustadz.”

Begitulah kehidupan di desa ini. Setiap warga harus menjadi orang yang tangguh. Seakan-akan di desa ini orang dilarang sakit. Mereka juga dilarang capek. Kenapa? Karena kehidupan yang serba sulit dan kerja keras yang mesti dilakoni, menuntut fisik harus selalu prima dan sehat.

Bagi mereka, kerja harus keras dan semangat, agar hasil yang didapatkan optimal. Bahkan saking semangatnya bekerja, tidak jarang shalat dianggap sebagai pengganggu acara. Allahul Musta’an.

Siang itu awalnya kami hanya bisa bertemu dengan sang istri. Dengan cekatan ia berjalan mondar-mandir di dapur memasak air nira. Keringatnya mengucur deras, seperti seorang kuli bangunan yang bekerja di terik matahari. Sebentar dia mengaduk wajan raksasa di atas tungku, sebentar kemudian dia berlari kecil mengambil kayu bakar untuk dimasukkan ke dalam tungku. Sungguh pekerjaan yang cukup melelahkan bagi seorang ibu.

Tak lama kemudian sang suami datang dengan membawa 2 jerigen berisi air nira. Wajahnya masih saja ceria padahal peluh membasahi tubuhnya, demi melihat kedatangan kami. Ia pun bergegas mandi dan memakai baju ganti. Tak lupa ia mengenakan kain sarung ketika menemui kami.

Ruang tamu berlantai tanah itu menjadi tempat kami bertukar cerita. Mulai dari kesibukan sehari-hari, sampai sulitnya ekonomi. Pembicaraan siang itu juga sedikit menyinggung masalah rokok. Awalnya si bapak bertanya keheranan; “Itu anak-anak pondok memang semuanya tidak merokok ya, pak ustadz?”

Kami pun menjawab dengan berbagai alasan, baik medis maupun syar’i. Alhamdulillah dia mau menerima. Sampai akhirnya dia berjanji di depan kami; “Insya Allah saya akan berhenti merokok, ustadz.”

Alhamdulillah… semoga si bapak diberi keistiqomahan.

Pada kunjungan kami siang itu, tak lupa kami sisipi nasehat untuk tetap shalat walaupun sesibuk apapun. Dan tanpa dinyana, si bapak berkata; “Pak ustadz, saya itu sebenarnya pengen njenengan bangunkan pada waktu subuh. Ketok aja pintu terus panggil nama saya. Kan kalau saya shalat subuh terus, bisa langsung nderes pagi itu.”

Alhamdulillah… sekali lagi kami merasa terharu. Semoga Allah memudahkan si bapak untuk beribadah dan istiqomah.

Dan akhirnya… pagi ini kami mendapat kabar gembira. Tadi subuh setelah adzan kami bermaksud untuk membangunkan si bapak sebagaimana permintaan dia sebelumnya. Tapi tanpa kita duga si bapak sudah membuka pintu rumahnya sebelum kami mengetuk pintunya.

Alhamdulillah, ya Rabb …

Pagi ini juga setelah shalat subuh kami bergegas menemui si bapak. Ketika itu ia sudah bersiap melepas tambatan tali perahunya.

“Sudah mau berangkat, pak?”

Dengan senyum dan penuh semangat ia mengiyakan. Ternyata baru beberapa kali selama hidupnya si bapak bisa berangkat nderes sepagi itu. Seringnya ia berangkat ketika matahari mulai meninggi. Dan yang lebih membuat kami bahagia adalah bahwa pagi ini di tanganya tidak lagi kami jumpai sebatang rokok yang biasa ia bawa ketika ia mulai mengayuh dayung perahu meninggalkan rumahnya.

Semoga Allah memberinya hidayah serta memudahkan rezekinya… Amin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *