Kepedihan Setelah Merasakan Lezatnya Maksiat

Ketahuilah, rahimakumullah, sungguh kelezatan yang dirasakan pelaku maksiat saat menikmati kemaksiatan yang diperbuatnya itu telah bercampur di dalamnya berbagai macam keburukan yang tentu mengakibatkan rasa pedih setelah selesai menikmatinya.

Jika faktor pendorong kemaksiatan semakin menguat dalam dirimu. maka pikirkanlah bahwa ia pasti akan lenyap, tidak berbekas sama sekali, sedangkan keburukan dan rasa sakit yang dihasilkan olehnya akan tetap membekas dan terasa pedihnya.

Kemudian timbanglah dengan seksama antara dua hal ini, lalu perhatikan pebedaan mencolok yang ada pada keduanya.

Ketahuilah rahimakumullah, rasa lelah yang dirasakan hamba dari ketaatan yang ia lakukan sungguh telah tercampur di dalamnya berbagai macam kebaikan, yang membuahkan kelezatan dan kenyamanan.

Apabila ketaatan tersebut terasa berat oleh jiwa, maka pikirkanlah bahwa rasa capek, letih dan kepayahan yang mengiringi ketaatan yang ia lakukan itu pasti akan berakhir. Sedangkan buah manis kebaikan, kelezatan, dan kegembiraan yang terhasilkan olehnya bakal kekal abadi.

Kemudian timbanglah antara dua hal ini, pilihlah yang lebih kuat dari yang lebih lemah.

Jikalau engkau merasakan rasa sakit akibat ketaatan yang engkau lakukan, maka perhatikan olehmu rasa senang, kegembiraan, serta kelezatan di balik ketaatan yang engkau lakukan, niscaya hal tersebut akan meringankanmu dalam membandingkan dan memilih antara bersabar di atas ketaatan atau memutusnya.

Apabila engkau merasa sakit akibat upayamu meninggalkan kelezatan yang haram, maka lihatlah kepedihan yang mengiringinya lalu timbanglah dengan seksama antara 2 hal tersebut.

Keutamaan akal adalah bagaimana ia menghasilkan manfaat terbesar dengan meluputkan yang terendah di antara keduanya. Dan bersabar, menanggung penderitaan yang lebih kecil dalam rangka menolak yang lebih besar.

Hal ini semua membutuhkan ilmu tentang sebab akibat dan akal yang mampu memilih hal-hal yang lebih utama dan lebih bermanfaat baginya. Barangsiapa yang kaya ilmu dan akalnya dalam hal pembagian, tentulah ia akan memilih yang paling afdhal dan lebih mendahulukannya. Dan barangsiapa yang kurang bagiannya dari dua hal tersebut: ilmu dan akal, atau salah satu dari keduanya, pasti ia akan memilih yang selainnya.

Barangsiapa yang memikirkan dan merenungkan hakikat dunia dan akhirat niscaya ia akan tahu bahwa tidak mungkin meraih salah satu dari keduanya kecuali pasti disertai rasa berat. Maka hendaklah ia bersabar, menanggung beban berat dalam rangka meraih yang terbaik dan yang lebih kekal di antara keduanya.

Sumber: Al-Fawaid, karya Ibnul Qayyim rahimahullah

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.