Lodadi, Kampung yang Hampir Mati

Tim PKL-SPN 2019 diberi kesempatan untuk menyusuri sebuah kampung kecil yang terpencil. Bersama salah satu penduduk setempat, tim melewati pemandangan alam yang luar biasa.

Jalan bergelombang, di bawah rindangnya pohon karet, mobil tim harus masuk ke sungai agar bisa masuk ke Kampung Lodadi.

Begitu masuk ke jantung kampung, kami begitu tersentak. Kampung ini hanya terdiri dari 7 KK. Rumah mereka sederhana sekali. Berdinding anyaman bambu, atau kalsiboard yang dicat warna-warni, warga Lodadi mampu bertahan di tempat ini.

“Kok ga pindah saja Pak?”

Tanya kami.

“Mau pindah kemana lagi? Di sini saja sampai mati,”

jawab mereka.

Mereka hidup dari kebun. Bersabar dari beratnya tuntutan kehidupan. Untuk memenuhi hajat dapur, warga harus menyeberangi sungai dan sampai di kampung seberang. Kurang lebih ada 20 menit untuk keluar dari kampung tersebut.

Anak-anak juga demikian. Mereka sekolah di kampung sebelah.

“Masalah kami hanya satu Ustadz! Kami butuh jembatan untuk menghubungkan dengan kampung sebelah,”

kata warga.

Kasihan warga dan anak-anak! Kalau musim hujan, kampung ini nyaris mati. Anak-anak dan warga tidak bisa keluar kampung. Mereka tidak bisa bekerja atau belajar.

“Kami minta satu saja! Jembatan saja,”

pinta seorang ibu sambil memelas.

Semoga Allah segera memberikan solusi untuk mereka. Amiin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.