Pandemi Bukan Berarti Cuti

           SEGORES TINTA

Para pembaca sekalian…

Bila kita membahas tentang pandemi covid-19 yang telah berlangsung beberapa lamanya, dengan realita yang cukup membuat kita mengelus dada. Korban berjatuhan dimana-mana, angka penularan yang kian melonjak tanpa kunjung reda dan kini belum diketahui kapan berakhirnya.

Semua ini menunjukkan akan kelemahan manusia, yang mana mereka hanya bisa berencana, namun segala keputusan hanya berada di tangan-Nya semata.

Atas dasar ini, tiada yang ingin kami ungkapkan melainkan beristighfar kepada-Nya. Namun di sisi lain, raga kita takkan pernah berhenti mengucapkan rasa syukur.

Kita beristighfar kepada Allah, karena tidaklah wabah pandemi ini turun, melainkan karena perbuatan dosa kita. Wabahpun tak kunjung usai, karena kita tak kunjung berbenah dan masih bergelimang dengan dosa.

Kita bersyukur kepada Allah, karena masih mengaruniakan keistiqamahan dan kesabaran dalam menjalani wabah ini.

Kitapun bersyukur kepada Allah dengan kemurahan-Nya semata telah mengaruniakan  kepada kita orang-orang yang bersedia menuntun derap langkah kita dalam menapaki wabah pandemi ini. Mereka adalah para asatidzah yang merupakan orang-orang yang berjiwa besar. Para pejuang yang selalu mengajarkan kepada kita untuk taat kepada pemerintah.

Mereka duduk bermusyawarah dari waktu ke waktu tanpa pikir jemu, mengkaji dan membahas himbauan pemerintah. Mensosialisasikan kepada para ikhwah dan santri untuk diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari di masa pandemi.

          TIM KONSUMSI TATKALA PANDEMI

Kami adalah para santri yang berta’awun di divisi tamu. Bertugas melayani tamu yang datang berkunjung ke Ma’had. Baik dalam rangka study banding, menjenguk anaknya, dsb. Mengingat wabah Covid-19 yang telah ditetapkan sebagai wabah pandemi, maka pada permulaan April, Ma’had tidak lagi menerima tamu dalam rangka memutus rantai penyebaran Covid-19, sehingga kami tidak lagi melayani tamu lagi.

Namun hal tersebut tidak berarti kegiatan dan tugas kami berhenti. Kamipun lebih fokus untuk melayani kebutuhan rapat-rapat di Ma’had. Baik rapat satgas covid-19, rapat tarbiyah, sampaipun rapat antar santri yang memiliki berbagai tugas Ma’had.

Hampir hampir tiada hari tanpa rapat, terkhusus rapat satgas. Mereka selalu mengkaji kabar dan himbauan terkini mengenai Covid-19 sehingga rapatpun bersifat dadakan. Biasanya rapat dimulai jam 09.30 WIB hingga sore dan tidak jarang dilanjutkan dengan rapat khusus di malam hari.

Inilah didikan asatidzah kepada para santrinya, mereka menanamkan untuk senantiasa bermusyawarah dalam menjalankan tugas dan menghadapi berbagai permasalahan.

Bila ditanya tentang letih, penat, dan bosan, semua itu pernah kami rasakan bahkan terkadang harus berkorban ketinggalan pelajaran. Namun di sisi lain, kami juga sedang belajar tentang perkara yang lebih tinggi dari itu. Bagaimana tidak, apa yang kami pelajari di kelas merupakan pelajaran teori, sedangkan yang kini kami jalani adalah pelajaran praktek yang sejatinya ialah tujuan dari pelajaran di kelas.

Kini kami belajar bagaimana cara bersabar, bermusyawarah, saling mengalah, berkorban, dsb. Semua itu kami pelajari dari kejadian yang kami alami maupun yang kami ambil dari asatidzah. Kami melihat betapa besar pengorbanan mereka demi kesejahteraan para santrinya. Mereka yang kini mulai memasuki usia yang tidak muda lagi, rela mengorbankan sekian tenaga, pikiran, waktu bersama anak dan keluarga demi kelancaran proses KBM.

Begitu pula, agar para santri maupun ikhwah yang tinggal di lingkungan Ma’had merasa aman dari wabah covid-19. Di sisi lain, mereka memiliki jadwal mengajar yang begitu padat. Dari situlah kami merasa, bahwa apa yang kami berikan tidak bisa menyamai apa yang telah mereka korbankan dan memang demikianlah kenyataannya.

Kami juga yakin, bahwa segala aktifitas yang melibatkan banyak tangan, biasanya terjadi yang namanya gesekan, perselisihan, dan salah paham. Maka kami tim konsumsi memilih acara makan-makan walaupun sifatnya kecil-kecilan untuk kembali saling memaafkan dan menguatkan. Harapannya dengan tercucinya segala perkakas dan peralatan makan, tercuci pula segala noda yang ada dalam lubuk perasaan.

Tidak lupa pula, dan ini termasuk yang terpenting bahwa merekatkan ukhuwah harus dibangun di atas cinta dan benci karena Allah. Saling menasihati di antara kita, merupakan wujud menjalankan kecintaan karena Allah. Mudah-mudahan Allah Ta’ala senantiasa menyatukan hati-hati kami di atas al-Qur’an dan as-Sunnah.

Di antara kegiatan kami adalah memberi konsumsi kepada para santri yang melakukan karantina sekembali dari luar pondok, baik karena keperluan berobat ataupun karena sebab lainnya. Mereka yang diisolasi selama dua atau tiga minggu lamanya, tentunya memiliki berbagai kebutuhan, maka kamipun ditugaskan untuk melayani segala kebutuhan mereka.

Baik yang sifatnya pokok maupun tambahan, harapannya dengan itu dapat membantu dan mengurangi beban mereka, sekaligus sebagai bentuk kepeduliaan kepada saudara semuslim.

Mungkin pandemi membuat jarak fisik antara kita sedikit berjauhan, namun nyatanya pandemi juga menjadi sebab kita lebih mengerti dan memahami antar sesama, sehingga perasaan batin kita terus menyatu tanpa bisa terpisahkan.

Ini adalah secuplik rekaman perjalanan warna warni tim konsumsi di masa pandemi. Harapannya dapat memotivasi kita semua untuk saling ta’awun dalam menjalani wabah pandemi ini dan saling berlomba untuk memberi manfaat bagi sesama.

Tak lupa sebuah rasa syukur kami berikan kepada seluruh pihak yang memiliki jasa, baik dukungan, kritik, dan saran kepada kami. Kami mengakui kalaulah bukan karena pertolongan Allah semata kemudian jasa antum semua, kami takkan bisa bertahan sejauh ini.

Saudaraku…

Tentang kata “Tamu”, kami ingin sampaikan sebuah nasehat yang diucapkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

“Tidaklah seorang dari kalian di dunia ini melainkan seperti tamu dan hartanya bagaikan barang pinjaman, sang tamu pastilah akan pergi dan barang pinjaman akan dikembalikan kepada sang pemiliknya.”

Di akhir kata, terangkai sebuah harapan dan doa. Sebuah harapan teruntuk kawan sekalian untuk terus bersemangat menyingsingkan lengan dan berbuat. Marilah kita menjalani wabah ini dengan bergandengan tangan dan saling menguatkan. Kita juga harus saling berbenah dan membenahi, dengan harapan semoga pandemi ini segera berakhir.

Kiranya sebuah doa akan menjadi titik penghujung goresan sederhana ini, dengan asa yang tidak pernah berhenti untuk terkabulnya.

“Yaa Allah, kami memohon kepada-Mu agar mengangkat wabah ini dan menjadikan kami termasuk orang-orang yang keluar dari ujian ini dalam keadaan dirahmati dan diampuni.” Amiin

           

 

           Mencari inspirasi di anyaman kabut pagi…

           Jember, Jum’at 16 Muharram 1442 H/ 4 September 2020 M

          Muhibukum fillah Tim Tamu

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.