Rebo Wekasan Dalam Tinjauan Syariat Islam

Di antara anggapan dan keyakinan keliru yang terjadi di bulan Shafar adalah adanya sebuah hari yang diistilahkan dengan Rebo Wekasan. Dalam bahasa Jawa ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar. Di sebagian daerah, hari ini juga dikenal dengan hari Rabu Pungkasan.

Apakah Rebo Wekasan itu?

Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa setiap tahun akan turun 320.000 bala’, musibah, ataupun bencana (dalam referensi lain 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya), dan itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Sehingga dalam upaya tolak bala’ darinya, diadakanlah ritual-ritual tertentu pada hari itu. Di antara ritual tersebut adalah dengan mengerjakan shalat empat raka’at -yang diistilahkan dengan shalat sunnah lidaf’il bala’(shalat sunnah untuk menolak bala’)- yang dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah shalat isyraq (setelah terbit matahari) dengan satu kali salam. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali (dalam referensi lain 5 kali), Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan surat An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca sebanyak 360 kali ayat ke-21 dari surat Yusuf yang berbunyi:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”

Kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamal tiga kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Ritual ini kemudian dilanjutkan dengan memberikan sedekah roti kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, dia juga harus membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.

Barangsiapa yang pada hari itu melakukan ritual tersebut, maka dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu.

Kaum muslimin rahimakumullah, dari mana dan siapakah yang mengajarkan tata cara / ritual ‘ibadah’ seperti itu?

Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa di dalam kitab Kanzun Najah karangan Syaikh Abdul Hamid Kudus yang katanya pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah, diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah[1] bahwa pada setiap tahun akan turun 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya, yang turunnya pada setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar. Bagi yang shalat pada hari itu dengan tata cara sebagaimana tersebut di atas, maka akan selamat dari semua bencana dan bahaya tersebut.

Mungkin inilah yang dijadikan dasar hukum tentang ‘disyari’atkannya’ ritual di hari Rebo Wekasan tersebut. Namun ternyata amaliyah yang demikian tidak ada dasarnya sama sekali dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabishallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi salaf dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in tidak pernah melakukan apalagi mengajarkan ritual semacam itu. Demikian pula generasi setelahnya yang senantiasa mengikuti jejak mereka dengan baik.

Keyakinan tentang Rebo Wekasan sebagai hari turunnya bala’ dan musibah adalah keyakinan yang batil. Lebih batil lagi karena berangkat dari keyakinan tersebut, dilaksanakanlah ritual tertentu untuk menolak bala’ dengan tata cara yang disebutkan di atas. Sementara keyakinan dan ritual tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan tidak pula dicontohkan oleh para imam madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal), tidak pula mereka membimbing dan mengajak para murid serta pengikut madzhabnya untuk melakukan yang demikian.

Para ulama dan kaum muslimin yang senantiasa menjaga aqidah dan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya hingga hari ini -sampai akhir zaman nanti- juga tidak akan berkeyakinan dengan keyakinan seperti ini dan tidak pula beramal dengan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf tersebut.

Jika keyakinan dan ritual ibadah tersebut tidak berdasar pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula sebagai amalan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan para imam madzhab yang empat, maka sungguh amalan tersebut bukan bagian dari agama yang murni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk bimbingan dan petunjuk kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim).

Islam adalah agama yang sempurna, seluruh syariatnya dibangun di atas penyempurnaan agama bagi para hamba-Nya dengan memerangi segala bentuk kesyirikan dan segala bentuk penyandaran diri kepada makhluk-Nya. Islam juga dibangun di atas penyempurnaan akal-akal manusia dengan membatalkan segala bentuk khurafat dan dongeng-dongeng yang tidak jelas asal-usulnya. Islam sangat menaruh perhatian pada upaya mendatangkan segala bentuk manfaat, mashlahat dan kebaikan yang meningkatkan akal pikiran, menyucikan jiwa dan memperbaiki segala keadaan para hamba baik pada urusan agama, dunia maupun akhirat mereka.

Seorang muslim yang memiliki akal dan pandangan hati yang tajam tentu ia akan bisa menimbang dan menilai bahwa keyakinan sial pada hari tertentu, angka tertentu, tempat tertentu atau pada sesuatu tertentu yang ia lihat maupun yang ia dengar adalah keyakinan yang tidak dibangun di atas kaedah-kaedah ilmiyah, tidak pula dibangun di atas fitrah yang salimah.

Hanyalah keyakinan sial itu bersumber dari dugaan-dugaan dan was-was syaithan yang ia lemparkan ke dada-dada orang yang lemah imannya lalu iapun mempercaycainya. Tidakkah ada yang mau berfikir, bukankah hari Rebo Wekasan, Jum’at Kliwon, Selasa Wage, Jum’at Legi dan hari Senin, Selasa, Ahad, Sabtu itu tidak ada bedanya? Bukankah bulan Safar, Muharram dan Syawwal itu sama seperti bulan-bulan lainnya? Bukankah nikmat dan musibah itu semuanya berasal dari-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya?

Semua orang yang berakal tahu, waktu, hari dan bulan itu hanyalah tempat terjadinya berbagai peristiwa. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan nikmat yang turun ataupun bala’ yang menimpa. Hanyalah kesemuanya itu terjadi dengan takdir dan kehendak Allah semata. Segala sesuatu yang Ia kehendaki pasti terjadi dan segala sesuatu yang tidak Ia kehendaki pasti tidak akan terjadi.

Dan bukanlah menjadi sebuah pembenaran apabila satu dua bencana kebetulan terjadi pada Rebo Wekasan, kita katakan bahwa hal itu kebetulan terjadi bertepatan dengan Rebo Wekasan bukan disebabkan karena Rebo Wekasan.

Oleh karena itu sudah sepantasnya kita hanya bersandar kepada-Nya semata dalam hal mendatangkan manfaat maupun menolak bala’. Jangan sampai kita menoleh sedikitpun kepada khurafat, takhayyul dan dongeng-dongeng yang tidak jelas asal-usulnya.

Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjaga kita dan kaum muslimin dari berbagai penyimpangan dalam menjalankan agama ini. Amin.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *