Terjerat Kristenisasi Karena Ekonomi dan Sakit Hati

Gambar. ‘Jalan raya’ Muara Dua

Pagi itu, selepas shalat Subuh kami berjalan menyusuri jalan desa Muara Dua. Jalan yang membelah rawa-rawa dan persawahan ini memanjang dari desa Binangun sampai desa Bugel. Hawa pagi yang sejuk mengiringi langkah kaki kami menuju rumah salah seorang warga desa yang ternyata dulunya seorang muslim. Tapi karena kesempitan hidup dan ketiadaan harta, mereka menukar iman dengan kekufuran. Tadinya seorang muslim kini menjadi pengikut pendeta Samadi.

Berat sebenarnya kaki kami untuk melangkah menuju rumah itu. Pembicaraan apa yang akan kami mulai untuk mencairkan suasana? Tapi dengan berbekal keyakinan bahwa Nabi dulu juga pernah mendatangi seorang Yahudi dan Nasrani, akhirnya kami beranikan diri  untuk mencoba mendakwahi.

Rumah itu berdiri di pinggir sungai. Sebagaimana keumuman warga di sini, rumah itu juga dikelilingi empang (tambak), rawa, serta tumbuhan khas muara sungai.

Pak Saring dan bu Jasiyem adalah nama pemilik rumah itu. Pasangan paruh baya itu hidup dengan ditemani oleh tiga orang cucu. Mereka hidup dengan mengandalkan ‘totok’ yang hampir tiap hari mereka cari. Totok adalah hewan sejenis kerang/keong yang hidup di bawah lumpur di sekitar muara sungai. Jumlahnya ribuan bahkan mungkin jutaan di desa itu.

Membeli totok nampaknya menjadi pilihan yang tepat untuk membuka pembicaraan pagi itu. Si ibu mencul di depan pintu dengan wajah sedikit terkejut dan serba salah. Beribu prasangka mungkin sedang berkecamuk dalam hatinya.

“Ada apa gerangan pak ustadz mau mampir ke rumah kami?” Barangkali itu kalimat yang terucap di hatinya.

Kamipun mulai menyapa,”Ada totok bu?”

Rumah mereka berdinding bata tetapi masih belum dikuliti. Kanan kiri dipenuhi cangkang totok yang sudah terbuka. Di belakang rumah terdapat dapur kecil berdinding daun sebagai tempat untuk merebus totok.

Ketika kami masuk, ternyata lantai rumah itu masih berupa tanah. Tanah sawah yang masih belum terlalu rata, dilapisi gedek bambu sebagai alas permadaninya.

Sungguh pemandangan yang cukup miris. Tetapi yang membuat hati lebih teriris-iris manakala kita sedikit mendongakkan kepala. Di atas dinding ruang tengah terpajang sebuah benda. Bukan sembarang benda, tapi itu adalah lukisan yesus di tiang salibnya.

Laa Ilaaha Illallah …

Mereka adalah warga dusun Muara Dua. Berbahasa sama seperti kita. Rambut dan kulit kita sama. Tapi ternyata iman kita berbeda.

Kamipun singgah sejenak di rumah itu. Kami sempatkan juga membantu merebus totok dan mengupas isinya. Sambil bekerja, si ibu bercerita,

“Kami dulu dilahirkan Islam juga. Kemudian kami mendapat musibah. Suami saya sakit sampai muntah darah setengah gelas aqua. Saya juga kena stroke sampai lumpuh. Lalu kami diobati pak pendeta. Sejak itulah kami berpindah agama. Anak saya masih ada yang Islam. Paman, dan keluarga semuanya Islam. Hanya kami saja di sini yang keluar dari agama.” Begitulah kira-kira dia bercerita.

Sambil berkisah, sesekali si ibu menyeka air matanya. Rasa haru, sedih, dan bingung jelas terpancar dari wajahya.

Pernah dulu mereka mau kembali kepada Islam. Si bapak bahkan sudah mulai mendekat dengan kita. Tapi qaddarulloh wama sya’a fa’al, kisah itu kini tinggal cerita. Karena sakit hati dengan omongan dari salah seorang teman kita. Juga masalah jeleknya muamalah seorang oknum teman kita, akhirnya mereka lari dari kita.

Hingga akhirnya terucap dari lisannya, “Ya wis pak, ngene wae. Ora usah melu bae. Sing penting awake dewe urip kepenak, iso golek pangan, ora diganggu, cukup.” (Ya sudahlah pak, begini saja. Tidak usah ikut saja. Yang penting kita hidup enak, bisa mencari makan, tidak diganggu, cukup)

Tapi sebenarnya dalam hati kecil mereka masih ada perasaan cinta kepada Islam. Jarang sekali mereka ke gereja. Bahkan terkadang si ibu berdoa di malam hari. Si ibu masih berharap suatu ketika nanti masih ada jalan untuk kembali kepada agama mereka sebelumnya. Agama Islam yang sempurna ini.

Tapi masih ada satu hal yang tersisa, perahu motor yang tertambat di belakang rumah mereka adalah pemberian gereja. Perahu inilah yang masih mengikat mereka dengan para penyembah salib. Mungkin karena mereka orang Jawa, rasa ewuh pakewuh masih begitu kental terasa. Merasa tidak enak mau pindah agama karena masih menanggung pemberian gereja yang itu adalah sarana transportasi utama untuk bekerja.

Akhirnya kami hanya mampu berdoa, semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka berdua, untuk kembali kepada Islam.

Pagi itu si ibu bertutur bahwa mereka sedang kurang sehat. Hipertensi dan sakit gigi. Walaupun demikian, keluarga pak Saring ini sempat menjamu sarapan bagi buat kami.

Adakah yang peduli dengan kondisi seperti ini? Saatnya untuk berbuat, memberikan perhatian dan bantuan sebatas kemampuan. Siapa tahu Allah subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada mereka dengan sebab ini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *