BAGAIMANA RASULULLAH BERCANDA?

Bercanda adalah hal yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Obrolan seolah tidak lengkap tanpa bercanda. Ibarat sayur tanpa garam, terasa hambar, kata orang. Hanya saja, bercanda ada adab dan etikanya. Pembahasan berikut ini membahas tentang etika bercanda. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk berhias dengannya. Amiin.

Anas bin Malik mengatakan,

Sesungguhnya Nabi suka mencandai kami. Suatu ketika beliau berkata kepada adikku, “Wahai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan oleh Nughair?” Sebelumnya, adikku yang masih kecil memelihara seekor burung kecil. Burung itu sering diajaknya bermain. Hingga suatu ketika burung kecil tersebut mati.[1]

Abu Hurairah pernah berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, Anda suka mencandai kami.” Rasulullah menjawab, “Ya. Hanya saja aku tidak mengatakan sesuatu kecuali ucapan yang benar.”[2]

Anas mengisahkan,

Seorang laki-laki meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diboncengkan di kendaraan beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, “Aku akan memboncengmu di atas seekor anak unta. Laki-laki itupun bertanya keheranan, “Apa yang bisa kita perbuat dengan seekor anak unta?” Nabi menjawab, “Bukankah seekor unta itu adalah anak induknya?”[3]

Anas menceritakan bahwa Nabi pernah memanggilnya dengan sebutan, Wahai pemilik dua telinga!”[4]

Masih pada kisah yang dibawakan Anas,

Seorang Arab badui bernama Zahir bin Haram mendatangi Rasulullah. Ia membawa hadiah dari daerah pedalaman. Ketika Zahir hendak pulang, Rasulullah mempersiapkan bekal perjalanan untuknya. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya Zahir adalah orang pedalaman dan kami akan mendatanginya.”

Zahir sesungguhnya adalah seorang yang jelek. Meski demikian, Rasulullah begitu mencintainya. Suatu ketika beliau pergi dan mendatangi Zahir secara diam-diam. Saat itu Zahir sedang berdagang. Nabi langsung memeluknya dari belakang dalam keadaan Zahir tidak tahu siapa orang yang telah memeluknya.

“Siapa yang menyuruh orang ini berbuat demikian kepadaku?” tanya Zahir.

Zahir pun menoleh dan ia tahu bahwa Nabi-lah yang datang. Mengetahui hal itu, Zahir mempererat pelukan Nabi dan semakin menempelkan punggungnya ke dada beliau. Kemudian Nabi berkata kepada orang-orang, “Silakan! Silakan! Siapa yang hendak membeli budak ini?” Zahir lantas berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, Anda akan tahu bahwa aku sangatlah tidak berharga.”

“Akan tetapi engkau di sisi Allah tidaklah demikian. Engkau di sisi Allah sangatlah berharga mahal, kata Rasulullah.[5]

Sesungguhnya yang dilakukan oleh Rasulullah adalah candaan penuh keakraban dan kasih sayang, tanpa mencela orang lain. Yang demikian itu adalah canda yang diperbolehkan. Adapun candaan yang dilakukan secara terus-menerus, yang berisi kedustaan atau menyita banyak waktu secara berlebihan, maka yang seperti ini dilarang. Bercanda dengan gambaran seperti ini hanya akan menimbulkan tertawa yang berlebihan dan menyebabkan kerasnya hati. Candaan yang demikian juga akan menumbuhkan permusuhan serta menjatuhkan kewibawaan dan kemuliaan seseorang.[6]

[1] Muttafaqun `alaih.

[2] HR. at-Tirmidzi. Hadis hasan.

[3] HR, at-Tirmidzi dan Abu Dawud dengan sanad yang sahih.

[4] HR. at-Tirmidzi dan dihasankan oleh al-Albani.

[5] HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, disahihkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar dalam alIshabah.

[6] Faedah ini disebutkan oleh az-Zu`bi–pentahqiq asySyamail alMuhammadiyyah.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.