Bandealit Menjerit

Ahad, 15 Januari 2017. Di teras depan posko PKL-SPN, kami dan salah seorang warga Bandealit bercengkrama saling berbagi cerita. Sebut saja pak Totok, bapak yang penuh santun itu menceritakan beberapa kisahnya. Gaya bercerita yang begitu khas, dengan dahi berkerut penuh keseriusan berhasil menyita perhatian kami untuk mendengarkan dengan seksama untaian-untaian kata yang keluar dari mulutnya.

Mulai dari kisah masa mudanya, keluarganya, pekerjaannya, hingga kehidupan masyarakat Bandealit secara umum beliau kisahkan kepada kami. Sebuah kisah sederhana yang mengandung pelajaran begitu berharga. Bagaikan sihir, kata demi kata yang beliau ucapkan membuat kami semakin terlarut dalam alur cerita.

Penulis melihat kerutan di dahi pak Totok semakin rapat ketika mulai bercerita tentang kedatangan misionaris di tempat itu beberapa tahun silam. Tuturnya, kala itu mereka datang dengan rombongan besar bermobil mewah. Misionaris-misionaris itu tinggal cukup lama di sini.

Dengan modus pembagian uang dan sembako, misionaris-misionaris itu mengintai keimanan kaum muslimin. Cara itu begitu ampuh dan menjadi magnet bagi masyarakat Bandealit yang memang mayoritas perekonomiannya sulit.

Alhamdulillah, Allah subhanahu wata’ala masih menjaga beliau untuk kokoh dan bukan termasuk warga yang rela menjual agama. Kami begitu tercengang mendengar pak Totok menyebutkan bahwa tokoh agama setempat yang merupakan satu-satunya orang yang mengajarkan al-Qur’an di daerah itu, tokoh agama yang diharapkan membimbing masyarakat ternyata juga termasuk orang yang mendatangi misionaris-misionaris tersebut hanya untuk mendapatkan beberapa nominal rupiah.

Kecemburuan yang besar terhadap agama membuat pak Totok memberanikan diri menegur sang tokoh agama. Saat itu, gaya bercerita beliau semakin meninggi menggambarkan amarahnya kala itu, namun sayang setiap kali terbawa arus cerita, pak Totok yang kesehariannya bekerja sebagai mandor perkebunan itu bercerita dengan bahasa Madura yang menjadi bahasa lokal daerah tersebut, sehingga hanya penulis dan salah satu teman saja yang memahami isi cerita beliau, ketika teringat bahwa tidak semua yang diajak bicara memahami bahasa Madura, barulah beliau menceritakan kembali dengan bahasa Indonesia, atau kami yang langsung menerjemahkannya.

“Abah, tak olleh Bah, ampian entar ka reng Kristen reh dusah Bah, pa pole be’en kan ustadz neng nak, ngajer ngajih neng nak, masak entar ka reng Kristen. Tak olleh bah, dusah.”

(Abah [sebutan untuk tokoh agama setempat], tidak boleh Bah, Anda pergi ke orang Kristen itu dosa, apa lagi Anda seorang ustadz di sini, mengajar ngaji di sini, masak datang ke orang Kristen?! Tidak boleh Bah dosa!).

Lalu tokoh agama itu menjawab

“Tak rapah, kan gun ngalak pessennah, tak ngalak agamanna”

(Tidak apa-apa, ‘kan cuma ngambil uangnya, bukan ngambil agamanya).

Semenjak peristiwa itulah timbul kekecewaan dari diri pak Totok dan beberapa warga sekitar kepada tokoh agama yang mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anak mereka itu, sehingga seruan sang tokoh agama untuk mengamalkan kebaikan pun kurang didengar.

Tentu hal ini pelajaran berharga bagi kita untuk berhati-hati dalam dakwah, sikap meremehkan syariat, baik yang kita anggap kecil ataupun besar bisa membuat masyarakat tidak mau diajak menuju kebenaran. Berikutnya jangan merasa aman dari keterperosokan dengan bekal ilmu yang kita miliki.

Pembaca, jangan biarkan Bandealit terus menjerit sakit! Ayo berbagi!

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.