Belajar Sabar Menghadapi Gangguan Orang Lain (bag. 5)

Keduabelas, mengetahui bahwa kesabaran seseorang itu merupakan hukuman dan pengekangan terhadap hawa nafsunya. Sehingga ketika hawa nafsunya terkalahkan, maka hawa nafsu tersebut tidak akan mampu memperbudak dan menawan dirinya serta menjerumuskannya ke dalam kebinasaan.

Ketika dirinya menuruti dan mendengarkan kemauan hawa nafsunya serta terkalahkan olehnya, maka hawa nafsu itu akan senantiasa menguasainya sampai hawa nafsu tersebut membinasakannya, kecuali ia mendapatkan rahmat dari Rabbnya.

Tidaklah kesabaran itu kecuali mengandung pengekangan terhadap hawa nafsu beserta setan yang merasukinya. Maka di saat itulah kerajaan (kekuasaan) hati akan menang, bala tentaranya akan kokoh dan kuat sehingga musuh pun akan terusir.

Ketigabelas, mengetahui bahwa ketika ia bersabar, maka pasti Allah yang akan menjadi penolongnya. Allah adalah penolong bagi orang yang bersabar dan pembela bagi orang yang memasrahkan setiap yang menzaliminya kepada Allah. Barangsiapa yang membela hawa nafsunya (dengan melakukan upaya balas dendam), maka Allah akan menyerahkan hawa nafsunya kepada dirinya sendiri sehingga hawa nafsu itulah yang akan menjadi penolongnya. Maka apakah sama antara keadaan orang yang ditolong oleh Allah -yang Dia adalah sebaik-baik penolong- dengan seorang yang ditolong oleh hawa nafsunya -yang tentu merupakan penolong yang paling lemah-?

Keempatbelas, kesabaran dan pengendalian diri yang dilakukan oleh seseorang akan menyebabkan musuhnya berhenti dari tindak kezhaliman terhadapnya, menyesal dan meminta maaf kepadanya serta akan menimbulkan celaan manusia terhadap orang yang menzhaliminya. Sehingga setelah menyakiti dan mengganggu dirinya, pihak yang menzhalimi akan kembali dalam keadaan malu terhadap pihak yang telah dizhaliminya dan menyesali perbuatannya. Bahkan bisa jadi pihak yang menzhalimi akan berubah menjadi teman karib bagi pihak yang dizhalimi. Inilah makna firman Allah ta’ala,

ô ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35)

Bersambung Insya Allah.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.