Berkaca dari Akhlak Mulia sang Nabi Musthafa

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159)

Karena rahmat Allah-lah kamu (Muhammad) bisa berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Maka dari itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Jika kamu telah membulatkan tekadmu, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran:  159)

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (4)

Kamu benar-benar berada di atas budi pekerti yang luhur.” (QS. alQalam: 4)

Jika memperhatikan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kita akan melihat bahwa akhlak beliau adalah cerminan dari akhlak yang ada di dalam al-Qur`an.[1]

Perilaku yang paling beliau benci adalah dusta.[2]

Kata para sahabat, “Rasulullah bukanlah orang yang suka berbuat keji, berkata keji ataupun suka melaknat.” Nabi berpesan,

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنُكُمْ خُلُقًا.

“Sesungguhnya orang terbaik dari kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”[3]

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah bukanlah orang yang suka berbuat keji, suka melaknat, ataupun mencela. Jika sedang beradu argumen, beliau akan mengatakan, “Mengapa dia seperti itu?”[4]

Selain sebagai orang yang paling rupawan wajahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling mulia akhlaknya.[5]

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, suatu ketika ada seseorang meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau mendoakan kejelekan untuk kaum musyrikin. Dengan tegas beliau menjawab,

إِنِّيْ لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَلَكِنْ بُعِثْتُ رَحْمَةً.

“Sesungguhnya aku tidak diutus untuk menjadi seorang pelaknat. Akan tetapi aku diutus untuk membawa rahmat dan kasih sayang.”[6]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang selalu optimis dan tidak pesimis. Beliau tidak beranggapan sial dengan sesuatu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyukai nama yang baik.[7]

Amr bin al-`Ash radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan salah satu kisahnya bersama Rasulullah. Kata `Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menghadapkan wajah dan pembicaraanya kepadaku apabila kami sedang berbicara, hingga aku mengira bahwa aku adalah orang yang terbaik.

Suatu saat, aku berkata kepada beliau, “Wahai baginda Rasul, siapakah yang lebih baik, aku ataukah Abu Bakar?”

“Abu Bakar yang lebih baik,” jawab beliau.

“Wahai Rasulullah, aku ataukah Umar yang lebih baik?”tanyaku lagi.

“Umarlah yang lebih baik,” jawab beliau.

“Wahai Rasul, siapa yang lebih baik antara aku dan Utsman?”

“Utsman lebih baik.”

Aku pun berkata dalam hatiku, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menjawab pertanyaanku dengan benar dan jujur. Akupun berandai jika aku tidak pernah menanyakan hal itu kepada beliau.”[8]

Dikisahkan oleh Atha` bin Yasar, suatu ketika aku berjumpa dengan Abdullah bin Amr bin al-Ash. Aku berkata kepadanya, “Beritakan kepadaku tentang sifat Rasulullah yang disebutkan di dalam kitab Taurat!” Abdullah bin Amr menjawab, “Baiklah, aku akan memberitahukannya kepadamu.  Demi Allah, sesungguhnya beliau disifati dalam kitab Taurat dengan sifat-sifat yang disebutkan di dalam al-Qur`an.”

Lalu Abdullah bin Amr membacakan firman Allah ‘azza wa jalla,

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا [الْأَحْزَابُ: 45]. وَحِرْزًا لِلْأُمِّيِّيْنَ، أَنْتَ عَبْدِيْ وَرَسُوْلِيْ، سَمَّيْتُكَ الْمُتَوَكِّلَ، لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيْظٍ، وَلَا صَخَّابٍ فِيْ الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَدْفَعُ بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ. وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ، وَلَنْ يَقْبِضَهُ اللَّهُ تَعَالَى حَتَّى يُقِيْمَ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ؛ بِأَنْ يَقُوْلُوْا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيَفْتَحُوْا بِهَا أَعْيُنًا عُمْيًا، وَآذَانًا صُمًّا وَقُلُوْبًا غُلْفًا.

“Wahai nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai seorang saksi, pemberi kabar gembira sekaligus sebagai pemberi peringatan.” Kami juga mengutusmu sebagai penjaga bagi kaum buta huruf. Kamu adalah hamba-Ku dan utusan-Ku. Aku memberimu nama Mutawakkil. Kamu bukanlah orang yang keras lagi berhati kasar, atau suka berteriak-teriak di pasar, atau orang yang senang membalas kejelekan orang lain dengan kejelekan pula. Kamu adalah orang yang suka mengampuni dan memberi maaf. Allah tidak akan mewafatkannya sampai Dia meluruskan agama yang bengkok. Yaitu, dengan (mengajak agar umatnya) mengucapkan Laa ilaaha illallaah, sehingga akan terbuka mata-mata yang tidak melihat, telinga-telinga yang tidak mendengar serta hati-hati yang lalai.”[9]

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga pernah mengatakan, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dihadapkan pada dua pilihan kecuali akan memilih yang paling mudah di antara keduanya; selama hal itu bukan perkara dosa. Jika itu adalah perkara dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh dan menghindar dari dosa. Beliau tidak pernah marah terhadap urusan yang menyangkut diri beliau sama sekali. Hanya saja apabila larangan Allah ‘azza wa jalla dilanggar, maka beliau akan marah karenanya.

Dalam keterangan lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, tidakpula memukul wanita maupun budak, selain yang beliau lakukan ketika ber-jihad fi sabilillah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak marah bila haknya diambil dari beliau. Akan tetapi beliau akan marah jika keharaman Allah ‘azza wa jalla dilanggar. Maka, beliau marah karena Allah ‘azza wa jalla.[10]

Apabila ada seseorang datang kepada Rasulullah meminta-minta, atau memohon agar kebutuhannya dipenuhi, maka beliau akan berkata kepada para sahabat,

اشْفَعُوا فَلْتُؤْجَرُوا وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ رَسُوْلِهِ مَا شَاءَ.

“Berikan bantuan atau pertolongan untuk orang ini niscaya kalian akan diberi pahala. Allah memutuskan suatu perkara melalui lisan rasul-Nya sesuai apa yang Dia kehendaki.”[11]

Mari kita simak penuturan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berikut ini,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Suatu hari beliau menyuruhku untuk suatu keperluan. Aku lalu bergumam dalam hati, “Demi Allah, aku tidak akan pergi.” Pada akhirnya aku pergi untuk menyelesaikan urusan tersebut karena terbesit dalam diriku bahwa yang akan aku jalankan adalah perintah Rasulullah. shallallahu ‘alaihi wasallam

Akupun keluar dan berhenti untuk melihat anak-anak kecil yang sedang asyik bermain di pasar. Tiba-tiba saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah berdiri di belakangku. Akupun memandang beliau yang ketika itu tersenyum lebar.

“Wahai Anas kecil, sudahkah kamu pergi mengerjakan apa yang aku perintahkan tadi?” tanya beliau kepadaku.

“Aku telah selesai mengerjakannya, wahai Rasulullah.”

Demi Allah, aku telah menjadi pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selama sembilan tahun dan aku tidak pernah mendengar beliau mengomentari pekerjaanku, “Mengapa kamu melakukan ini?” atau mencela diriku. Demi Allah, beliau sama sekali tidak pernah mengatakan ‘ah’ kepadaku.”[12]

Pada sebuah peristiwa yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang tokoh bernama Tsumamah ditangkap dan ditawan oleh sekelompok sahabat. Para sahabat langsung mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Nabawi.

Tak lama setelah itu, Rasulullah datang menemuinya dan berkata, “Bagaimana keadaanmu, wahai Tsumamah?”

“Aku dalam keadaan baik, wahai Muhammad!” jawab Tsumamah.

“Jika kamu hendak membunuhku, maka kamu membunuh orang yang memiliki darah. Namun jika kamu berbuat baik dan memberi, maka kamu telah berbuat baik kepada orang yang tahu cara berterima kasih. Jika kamu ingin harta, mintalah kepadaku. Niscaya kamu akan diberi sesuai yang kamu minta,” lanjutnya.

“Lepaskan Tsumamah!” perintah Rasulullah.

Para sahabat segera melepaskan Tsumamah. Tak disangka, ia pergi dan mandi, lalu masuk ke dalam masjid. Ia lantas berikrar syahadat di hadapan Rasulullah. “Asyhadu anlaa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan `abduhu wa rasuluh.”

Tsumamah lalu berkata,

“Wahai Muhammad, Demi Allah, dahulu tidak ada wajah yang lebih aku benci di muka bumi ini selain wajah Anda. Kini, wajah Anda menjadi wajah yang paling aku cintai. Dahulu agama Anda adalah agama yang paling aku benci, namun sekarang agama Anda menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, sebelum ini tidak ada tempat yang lebih aku benci daripada tempatmu ini (Madinah). Akan tetapi sekarang Madinah merupakan tempat yang paling aku cintai.”

Ketika Tsumamah kembali ke Mekkah, ia ditanya oleh seseorang, “Apakah kamu telah murtad lalu mengikuti ajaran shabi` itu?”

“Tidak!”

“Akan tetapi aku telah berserah diri (ber-islam).” jawab Tsumamah.[13]

[1] HR. Muslim.

[2] HR. al-Baihaqi.

[3] Muttafaqun `alaih.

[4] HR. al-Bukhari.

[5] HR. al-Bukhari.

[6] HR. Muslim.

[7] HR. Ahmad. Hadis sahih.

[8] HR. at-Tirmidzi dan disahihkan oleh al-Albani.

[9] HR. al-Bukhari.

[10] Muttafaqun `alaih.

[11] Muttafaqun `alaih.

[12] HR. Muslim.

[13] Muttafaqun `alaih.. Hadis ini adalah lafazh dari riwayat Muslim dengan redaksi yang ringkas.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.