Inilah Yang Lebih Dikhawatirkan Nabi shallallahu alaihi wasallam daripada Fitnah Dajjal

Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu mengatakan,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar menjumpai kami ketika kami sedang memperbincangkan al-Masih ad-Dajjal.”

Rasulullah pun bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan menimpa kalian daripada fitnah al-Masih ad-Dajjal?”

Kami menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.”

Rasulullah bersabda, “Sesuatu tersebut adalah syirik khafi (yang sifatnya tersembunyi), (misalnya) ketika seseorang shalat, lalu ia memperbagus shalatnya karena ada orang lain yang melihatnya.” (HR. Ibnu Majah no. 4194)

Syirik khafi seperti yang digambarkan contohnya oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam di atas merupakan perbuatan yang menunjukkan tidak adanya keikhlasan dalam beramal. Orang tersebut sengaja memperbagus shalatnya karena ada orang lain yang melihat dirinya. Inilah perbuatan riya’.

Mengapa riya’ lebih dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam daripada fitnah al-Masih ad-Dajjal? Hal ini karena:

  1. Riya’ bisa menimpa siapa saja, orang alim maupun orang jahil, orang yang taat maupun orang yang suka berbuat maksiat, semuanya bisa terjangkiti penyakit. Sementara fitnah dajjal hanya akan menimpa orang-orang jahat dan jahil.

  2. Riya’ terjadi di sepanjang masa, dari dulu, sekarang, hingga hari kiamat. Sementara fitnah dajjal akan terjadi pada masa yang terbatas, yaitu di akhir zaman menjelang hari kiamat.

Memang ikhlas dalam beramal itu amat sulit. Sementara tidak ikhlas dalam beramal itu gampang sekali menjangkiti kita. Riya’, sum’ah, ingin dipuji, ingin disebut seringkali muncul dalam benak pikiran kita. Semoga Allah selamatkan kita darinya.

Maka dari itu, senantiasa mengkoreksi niat adalah sesuatu yang penting, diiringi doa kepada Allah agar membersihkan niatan amal yang kita lakukan.

Wallahu a’lam.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.