Menentukan Awal Ramadhan

Kata Pengantar

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah subhaanahu wa ta’aalaa, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa dari kejelekan jiwa kami dan keburukan amalan kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah subhaanahu wa ta’aalaa maka tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkan oleh Allah subhaanahu wa ta’aalaa maka tidak ada seorang pun yang bisa memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah subhaanahu wa ta’aalaa saja yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah subhaanahu wa ta’aalaa curahkan kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai datangnya hari kiamat.

Saudaraku kaum muslimin, semoga Allah subhaanahu wa ta’aalaa senantiasa memberkahi kita semua, di masa kita hidup sekarang ini kita telah sering mendapati perbedaan dimulainya puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Satu pihak terkadang mendahului dalam memulai puasa Ramadhan dan terkadang bisa bersamaan. Sebabnya pun sudah menjadi rahasia umum, yakni perbedaan hasil hisab falaki dengan hasil ru`yatul hilal.

Saudaraku, kita tentu ingat salah satu keutamaan agama Islam sebagai agama yang mudah. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185)

Salah satu kemudahan yang telah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ajarkan dan diamalkan oleh para shahabat yang mulia adalah menentukan permulaan Ramadhan dan Syawwal dengan cara ru`yatul hilal, bukan dengan hisab falaki. Metode hisab memang terkesan canggih dan memiliki presisi yang secara hitungan matematis pun masuk akal. Tetapi apakah cara hisab falaki  yang Allah syariatkan bagi umat Islam? Ternyata tidak, saudaraku.

Hendaknya dipahami oleh kita semua bahwa pembicaraan tentang kapan dimulainya puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri adalah pembicaraan tentang syariat. Secara khusus, pembahasan ini memuat tentang waktu-waktu dilaksanakannya ibadah puasa Ramadhan yang wajib kita kerjakan. Tentunya, Allah subhaanahu wa ta’aalaa telah memberikan bimbingan dan petunjuk yang sempurna untuk menentukan kapan dilaksanakan peribadatan kepada-Nya. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” (Al-Baqarah: 189)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

“Berpuasalah kalian dengan terlihatnya (hilal) dan berbukalah (beridul fitri) dengan terlihatnya. Maka jika (hilal) tersembunyi dari kalian, sempurnakanlah bilangan hari bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” (HR al-Bukhari no. 1909)

Benarlah, Islam itu mudah, saudaraku. Kita tidak perlu menghitung ketinggian, derajat, dan memakai rumus-rumus matematika yang rumit, cukup dengan mengamati hilal, dan Islam memang mudah.

Umat sejak beberapa lama justru dibuat bingung dengan perbedaan dimulainya Ramadhan dan Syawwal. Bahkan di satu keluarga tidak jarang terjadi perbedaan pula. Betapa indahnya jika kita mau rukun dan bersama-sama tunduk kepada aturan Allah subhaanahu wa ta’aalaa untuk menggunakan hilal sebagai penunjuk waktu dimulainya Ramadhan dan Syawwal. Ingatlah bahwa kita sedang menjalankan syariat-Nya, bukan sebatas memastikan apakah hilal sudah mencapai lebih dari 2 derajat ataukah tidak. Jika tidak terlihat, apa mau dikata? Tentu kita harus tunduk kepada syariat Allah subhaanahu wa ta’aalaa untuk menggenapkan hitungan bulan menjadi 30 hari.

Alih-alih hendak memberi kemudahan dengan hisab falaki sehingga bisa memperkirakan dimulainya Ramadhan sejak jauh-jauh hari bahkan dalam hitungan tahun, maka di antara ormas Islam ada yang berani mengumumkan kapan Ramadhan dan kapan Idul Fitri sejak dua bulan sebelumnya. Sikap seperti ini justru menambah runcing perbedaan di antara umat dan menimbulkan keresahan. Semestinya umat diajari dan dibimbing untuk patuh kepada syariat Allah subhaanahu wa ta’aalaa dengan menerapkan metode ru`yatul hilal (melihat hilal), bukan dengan menutup mata darinya dan mencukupkan dengan perhitungan (hisab) yang tidak ada landasan syar’inya.

Buku ringkas ini sejatinya adalah kumpulan tulisan yang sudah lama beredar di internet. Sengaja kami kumpulkan untuk menghimpun kandungan ilmiah dan mempermudah bagi saudara kita yang membutuhkannya. Semoga usaha penulis risalah ini menjadi amalan shalih yang diterima di sisi-Nya. Aamiin..

 

Jember, 19 Sya’ban 1434H

Untuk menyimak tulisan ini secara lengkap, silakan klik tulisan di bawah ini:

Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan dengan Ru`yatul Hilal atau Hisab Falaki?

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Ayana berkata:

    Kata rukyat tidak mesti diartikan dengan melihat mata saja. Melihat bisa dengan hati, pikiran, sejarah dan ilmu pengetahuan.
    Tidak semua negara-negara di belahan dunia ini dapat dijadikan tempat melihat bulan setiap saat. Seperti pada tanggal 8 Juli 2013 yang lalu, peredaran bulan hanya bisa dilihat dari kawasan Amerika, Samudra Atlantik, sebagian Eropa dan sebagian Afrika. Benua Asia dan Australia, sama sekali tidak dilalui peredaran bulan yang dapat dilihat, termasuk Arab Saudi dan Indonesia. Nah, dalam konteks ini, rukyat bisa digunakan dengan menggunakan melihat dengan ilmu pengetahuan atau hisab….dan tidak bertentang dengan Al-Qur’an.
    Wassalam.

    • mudir berkata:

      Kalau yang diajarkan oleh Rasulullah kepada umatnya sekalius praktek beliau adalah melihat hilal dengan mata kepala. Wallahu a’lam “Kata rukyat tidak mesti diartikan dengan melihat mata saja. Melihat bisa dengan hati, pikiran, sejarah dan ilmu pengetahuan.” Hal seperti ini siapa yang mengajarkan dan mempraktekkan dari kalangan shahabat atau generasi salaf.

    • fulanah berkata:

      @ayana dari mana landasan ant dalam berpaham demikian? jikalau rukyat bisa dengan selain mata maka bagaimana mungkin rosulullah shallalllahu’alayhi wa sallam menuntunkan untuk melihat (tentu dengan mata) hilal? janganlah kita jadikan akal kita sebagai sandaran.. tapi mesti ada hujjah(dalil) karena agama ini tegak dengan hujjah bukan kata si fulan, menurut si fulan dll . silahkan ant meresapi dan memahami tulisan al ust alfian di http://mahad-assalafy.com/wp-content/uploads/2013/07/Risalah-Ramadhan-Ust-Alfian.pdf
      semoga kita lebih berhati2 lagi berkata tanpa dilandasi ‘ilmu syar’I bukan ‘ilmu dunia. Karena bedakan antara ‘ilmu syar’i dengan “ilmu” yg itu adalah tsaqofah(pengetahuan saja).baarokallaahu fiyk.wallahua’alam

Tinggalkan Balasan ke mudir Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.