RAMADHAN BULAN KEBERSAMAAN

Ramadhan datang, masyarakat senang. Mereka bergembira karena di bulan mulia ini Allah berikan berkah padanya. Pintu kebaikan dibuka selebar-lebarnya. Dibuka pintu jannah dan ditutup pintu neraka. Setan juga dibelenggu.

Kebahagiaan masyarakat saat datangnya bulan mulia ini ditunjukkan jauh-jauh hari. Di antaranya, perbaikan dan renovasi mushalla dan masjid digeber sejak awal. Targetnya, saat Ramadhan tiba, mereka bisa menggunakannya untuk shalat Tarawih, Tadarus al-Qur’an, dan berbagai ibadah lainnya.

dakwah

Suasana ini juga dirasakan oleh masyarakat di pelosok Jember, Kalicawang, Tempurejo. Sebuah komunitas masyarakat mayoritas muslim yang numpang tinggal di tanah negara, kawasan Taman Nasional Meru Betiri.

Hidup mereka hanya numpang. Rumah berstatus pinjaman. Tidak ada sinyal dan listrik. Listrik menggunakan solar cell atau accu. Nyalanya antara jam 18.00 s/d 22.00. WC dan KM mayoritas di sungai.

Walau demikian, muslim di sana begitu antusias menyambut Ramadhan. Mushalla direnovasi. Plafon dipasang. Keramik distel. Dinding ditembok. Dalam kondisi rumah-rumah mereka sendiri terbuat dari gedek bambu (bilik) dan berlantai tanah.

dakwah

Mereka lebih mendahulukan pembangunan rumah Allah (Baitullah/Masjid) ketimbang rumah mereka sendiri. Mereka rela dinding rumah mereka ditembus angin malam yang dingin, asalkan masjid bertembok kokoh. Mereka rela rumah masih beralas tanah dan perlak, asalkan tempat ibadah mereka bisa nyaman untuk ibadah.

dakwah

Dengan segala keterbatasan mereka bahu-membahu membangun mushalla mereka. Dulu, 3 bulan silam, mushalla ini masih berdinding kayu papan. Beralas semen halus. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah kemudian sumbangsih muhsini yang disalurkan melalui Tim Peduli Tetangga Ma’had As Salafy Jember, mushalla kini lebih layak.

Hingga hari ini, renovasi terus dikebut. Mengingat, Ramadhan tinggal 10-an hari lagi. Para tukang dari masyarakat secara sukarela membantu secara fisik. “Mereka tidak dibayar. Kerja mereka kadang-kadang nyampe jam 10 malam,” ujar Kyai Ahmad Suparto, tokoh agama di mushalla tersebut yang menghabiskan masa mudanya di pondok pesantren.

Sore itu, Senin, 15 Mei 2017, pak Hafizh mengajak kami berkeliling meninjau pembangunan mushalla yang sudah mencapai 80%. Beliau berharap mushalla bisa segera selesai. “Kalau ada semen tambahan lagi, bagus pak Ustadz. Untuk nguliti dan lepo,” kata ketua seksi pembangunan yang matanya sudah rabun ini.

Semoga Allah memudahkan penyelesaian pembangunan mushalla ini. Kami berharap masyarakat semakin semangat memakmurkannya seiring dengan lebih baiknya bangunan fisik mushalla. Amin

#baksos #peduli #ramadhan #berbagi

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.