Seorang Mu’takif Tidak Dianjurkan Melakukan Hal-Hal Berikut

Pertanyaan:

Apakah syarat-syarat i’tikaf? Apakah puasa termasuk salah satu syaratnya? Apakah boleh orang yang beri’tikaf menjenguk orang sakit, menghadiri undangan, memenuhi kebutuhan keluarganya, mengiringi jenazah, ataupun bekerja?

Jawab:

I’tikaf disyariatkan dilakukan di masjid yang didirikan padanya shalat jamaah. Jika orang yang beri’tikaf termasuk orang yang dikenai beban kewajiban shalat jum’at dan selama waktu i’tikafnya mendapati hari jum’at, maka i’tikaf di masjid yang didirikan padanya shalat jum’at itu lebih utama. Tidak diharuskan orang yang beri’tikaf itu dalam keadaan berpuasa, dan termasuk sunnah adalah:

  • Seorang mu’takif (orang yang beri’tikaf) tidak menjenguk orang sakit selama masa i’tikafnya.
  • Seorang mu’takif tidak memenuhi undangan.
  • Seorang mu’takif tidak memenuhi kebutuhan keluarganya.
  • Seorang mu’takif tidak menghadiri (mengiringi) jenazah.
  • Tidak pergi untuk bekerja di luar masjid.

Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha,

السنة على المعتكف ألا يعود مريضاً، ولا يشهد جنازة، ولا يمس امرأة، ولا يباشرها، ولا يخرج لحاجة إلا لما لابد منه

“Yang sunnah adalah seorang mu’takif tidak menjenguk orang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh dan bermesraan istri, dan tidak keluar untuk suatu keperluan kecuali memang untuk keperluan yang mengharuskan ia keluar masjid.”

Pertanyaan:

Jika ada seseorang yang hendak beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir penuh di bulan Ramadhan di masjid, maka kapan waktu mulainya masuk masjid dan kapan berakhirnya masa i’tikafnya?

Jawab:

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كان النبي ? إذا أراد أن يعتكف صلى الفجر ثم دخل معتكفه

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika hendak beri’tikaf, beliau shalat fajar kemudian masuk ke tempat i’tikafnya.”

Waktu i’tikaf selesai dengan terbenamnya matahari pada hari terakhir (i’tikaf hari ke sepuluh) Ramadhan.

Pertanyaan:

Apakah ruang penjaga dan ruang panitia (pengurus) zakat bisa terhitung tempat i’tikaf? Perlu diketahu bahwa pintu ruang-ruang tersebut terletak di dalam masjid.

Jawaban:

Ruangan-ruangan yang berada di dalam masjid dan pintunya pun di dalam masjid, maka hukum yang berlaku pada ruang tersebut adalam seperti hukum masjid (boleh dijadikan tempat i’tikaf, disyariatkan shalat tahiyyatul masjid padanya, dll, pent). Adapun jika di luar masjid, maka bukan termasuk masjid walaupun pintu-pintunya berada di dalam masjid.

Pertanyaan:

Siapakah yang meriwayatkan hadits,

من اعتكف يوماً ابتغاء وجه الله باعد الله بينه وبين النار ثلاثة خنادق كل خندق كما بين الخافقين

“Barangsiapa yang beri’tikaf satu hari saja karena mengharapkan wajah Allah, maka Allah akan jauhkan antara dia dengan neraka sejauh tiga parit. Setiap paritnya seperti sejauh antara dua ufuk.”

Bagaimana derajat hadits ini? Jika ada seseorang yang hendak beri’tikaf sehari, kapan waktu memulainya dan kapan pula mengakhirinya? Demikian pula jika hendak beri’tikaf dua hari, kapan mauktu memulai dan kapan pula mengakhirinya?

Jawaban:

Hadits tersebut lemah. Waktu i’tikaf sehari dimulai setelah shalat fajar dan berakhir dengan terbenamnya matahari. Demikian pula i’tikaf dua hari.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’.

Sumber http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=145414

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.