Survey Bande Alit

Kami berempat ditemani ikhwan penunjuk jalan sepakat menjelajahi wilayah selatan Meru Betiri, tepatnya Bandealit.

Berangkat dari ma’had mengendarai trooper kami memilih jalan padang golf glantangan menyisir keselatan tembus Curah Nongko masuk ke portal sektor Andongrejo.

Petugas Taman Nasional menanyakan keperluan, terjawab dengan senyum ikhwan menyapa

“Pak Budi apa sudah datang pak. Saya saudaranya.”

Cairlah suasana.

Selang beberapa lama naiklah trooper dan masuk wilayah hutan belantara. Tak diduga tak dirasa terlihat sosok pertama mengendarai motor dengan wajah rindu keluarga. Rupanya pak Budi turun gunung sehabis patroli dibelantara.

Pak Budi sosok energik petugas lapangan Taman Nasional Meru Betiri. Berpengetahuan luas mengenai hutan serta spesifikasi tumbuhan dan khasiatnya, tak luput pula ilmu navigasi.

Kami bersua dan bercerita maksud dan tujuan kami. Sampailah kesediaan untuk menjembatani.

Berlanjut perjalanan kami dan sampai di sumber gadung, wilayah seberang sungai. Nampak sisa bangunan masjid memilukan hati. Kami sholat di ruangan bekas rumah perkebunan yang dijadikan mushola, bertemu seseorang dan bercerita mengenai awal mula masjid rusak tak terawat. Tersimpulkan karena perginya penghuni mengadu nasib ke kota. Tersisa tiga keluarga, untuk keperluan sehari-hari susah apalagi merawat masjid, ditambah kepedulian agama mulai sirna. Tersisa kesedihan dan harapan, apa yang bisa kami perbuat.

Perjalanan survey tak boleh henti, masih ada Sumber Salak kampung atas dan Bandealit pinggir pantai. Sampailah trooper menginjak pasir pantai. Sejenak debur ombak menghibur hati. Tak ada yang mustahil bagi Robbi. mewujudkan cita cita menegakkan bimbingan syar’i

Terdiri dari beberapa kampung yang terpisah kami mencoba menjelajah.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.