TAK TERASA…

HAMPIR EMPAT MINGGU TELAH BERLALU

Hidup di Sukamade dituntut sederhana. Makan harus seadanya. Kebutuhan pokok di sini harganya selangit. Pokoknya, membuat dahi berkernyit.

Kenapa? Sebab, harga aneka sayuran mahal, ikan segar (laut) susah didapat, padahal dekat pantai. Tidak bisa sembarangan beraktifitas di pantai Taman Nasional. Harga bumbu-bumbu juga mahal. Mau cari tempe tahu saja susah.

Akhirnya, yang laris manis adalah ikan asin. Dengan sebab ini mungkin, kelebihan asin, mayoritas warga menderita hipertensi. Demikian kesimpulan ringan tim PKL setelah baksos.

Kami tim Sukamade harus beradaptasi. Kami mensiasati dengan cara mengkonsumsi sayuran lokal, sebagaimana kebiasaan penduduk sini. Sayuran rebung, kelor, dan pakis menjadi menu wajib kami. Hal ini juga demi menjalankan nasehat tim dokter ma’had untuk tidak sering mengkonsumsi mie instan.

Setelah berhubungan baik dengan warga, kami menjadi tahu cara mengambil rebung (tunas bambu); dari jenis bambu yg mana. Demikian juga tempat cari sayuran pakis.

Juga informan lokal kami, pak Basman, tokoh yang pernah diceritakan khusus, sering sekali mengajak kami mancing oling, atau menjaring ikan. Jenis ikan yang didapat berupa wader, melem, dan belanak.

Tim selalu kami bagi dalam tiap aktifitas. Ada yang ikut warga panen kacang, ada yang ikut tanam sengon, ada yang ikut jala ikan, ada yg cari pakis, dan ada yg mengurus posko.

Akhirnya berkembang istilah di kalangan kami, seperti CP, artinya Cari Pakis, CI untuk Cari Ikan, CR Cari Rebung, atau bahkan CS yang artinya Cari Sinyal. Sebentar lagi musim jamur, jadi bakal ada CJR Cari Jamur.

Sementara itu, alhamdulillah untuk urusan perut, Tim Sukamade tidaklah perlu dikhawatirkan. Di tengah kesulitan sayur mayur dan proses belanja, kami menerima “hantaran” sayur mayur, baik mentah maupun matang, terutama dari para tetangga kami.

Mereka adalah para pegawai kebun, keluarga pak uli, tetangga kami persis. Sering sekali beliau menghantarkan masakan matang, masakan oseng tempe gembos. Jangan dinilai dari tempe gembosnya. Tapi tempe gembos aja tidak ada di Sukamade, harus titip beli di pesanggaran, kota kecamatan, dengan jarak tempuh 2,5 jam, medan gunung dan batu terjal, dan menyeberangi sungai. Tempe gembos di Sukamade seperti daging sapi di kota.

Tetangga juga sering mengirimi kami snack pisang & ketela rebus. Padahal keluarga tsb sedang kesusahan, karena qodarullah pak uli menderita sakit jantung.

Keluarga pak Yon mandor juga sering mengantarkan masakan yg “aneh2” seperti sop. Aneh untuk ukuran Sukamade. Karena untuk sop2-an harganya mahal, tidak terjangkau oleh kami.

Belum lagi kami diundang khusus oleh warga utk datang ke rumahnya, yang ujung2nya kita dijamu makan. Tokoh informan kami, Pak Basman, sering sekali membawa singkong, pisang sampai kelapa. Kalau kita komentari Pak Basman bilang, “Aku nek mangan gedang maagku kumat.”

Begitu sekelumit kisah kami di Sukamade. Janganlah mengkhawtirkan kondisi perut2 kami disini. Tapi, keterbatasan ilmu yang kami miliki yang dikhawatirkan. Sebab, mengemban amanah ini tidaklah ringan.

Tak terasa hampir 4 minggu telah berlalu. Saatnya kembali ke pondok, untuk duduk membuka buku, menghafal ilmu dan mencatatnya.

Selamat tinggal Sukamade, semoga Allah menjagamu dan memberimu hidayah selalu.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.